Pernahkah kita bercerita tentang seseorang kepada teman dengan alasan, “Saya cuma cerita apa adanya”? Atau membahas kekurangan rekan kerja, tetangga, saudara, bahkan orang yang sedang tidak berada di tempat, karena merasa hal itu memang benar?
Di sinilah persoalan ghibah sering kali menjadi samar.
Banyak orang mengira ghibah berarti berbohong atau memfitnah. Padahal, sesuatu yang kita ceritakan benar-benar terjadi pun dapat termasuk ghibah apabila orang yang dibicarakan tidak menyukainya jika mendengarnya.
Islam memberikan perhatian serius terhadap persoalan ini karena ucapan yang tampaknya ringan dapat merusak kehormatan seseorang, menimbulkan permusuhan, dan menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan.
Apa Itu Ghibah?
Rasulullah ﷺ menjelaskan pengertian ghibah dengan sangat jelas dalam hadis sahih.
Ketika para sahabat bertanya tentang ghibah, Nabi ﷺ menjelaskan bahwa ghibah adalah membicarakan saudara kita dengan sesuatu yang tidak ia sukai. Para sahabat kemudian bertanya, bagaimana jika apa yang dibicarakan itu memang benar?
Nabi ﷺ menjawab bahwa jika hal tersebut memang ada pada dirinya, maka itu adalah ghibah. Jika ternyata tidak ada, maka orang tersebut telah melakukan kebohongan atau tuduhan dusta terhadapnya. Hadis ini diriwayatkan dalam Sahih Muslim nomor 2589.
Jadi, salah satu hal penting yang perlu dipahami adalah:
Benar belum tentu berarti boleh dibicarakan.
Jika seseorang memiliki kekurangan tertentu dan kita menyebutkannya di belakangnya dengan cara yang dia tidak sukai, pembicaraan tersebut dapat menjadi ghibah meskipun faktanya benar.
Al-Qur’an Melarang Ghibah dengan Perumpamaan yang Sangat Keras
Larangan ghibah disebut secara tegas dalam Surah Al-Hujurat ayat 12.
Allah melarang orang-orang beriman untuk menggunjing satu sama lain dan memberikan perumpamaan yang sangat berat: orang yang melakukan ghibah diibaratkan seperti memakan daging saudaranya yang telah meninggal. Ayat tersebut kemudian ditutup dengan perintah bertakwa dan pengingat bahwa Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.
Perumpamaan tersebut menunjukkan bahwa menjaga kehormatan orang lain bukan persoalan sepele dalam Islam.
Ghibah juga berkaitan dengan hak sesama manusia. Seseorang mungkin tidak mengetahui bahwa dirinya sedang dibicarakan, tetapi kehormatannya tetap menjadi sesuatu yang harus dijaga.
Kapan Membicarakan Keburukan Orang Lain Menjadi Ghibah?
Secara sederhana, kita perlu berhati-hati ketika tiga hal berikut berkumpul:
Pertama, orang yang dibicarakan tidak hadir.
Kita sedang membahas seseorang ketika ia tidak berada di tempat untuk memberikan penjelasan atau membela dirinya.
Kedua, yang dibicarakan adalah sesuatu yang tidak ia sukai jika mendengarnya.
Hal tersebut bisa berkaitan dengan fisik, sifat, perilaku, keluarga, pekerjaan, kehidupan pribadi, kesalahan, atau kekurangan lainnya.
Ketiga, pembicaraan dilakukan tanpa kebutuhan yang dibenarkan.
Jika tujuannya hanya untuk menghibur diri, membuat bahan candaan, mencari perhatian, menjatuhkan seseorang, atau membuat orang lain ikut membencinya, maka kita perlu sangat waspada.
Misalnya:
“Dia memang pintar, tapi sebenarnya orangnya pelit.”
Jika orang tersebut tidak suka sifat itu dibicarakan di belakangnya dan pembicaraan tersebut tidak memiliki kebutuhan yang dibenarkan, maka perkataan tersebut dapat termasuk ghibah.
Begitu pula komentar mengenai penampilan, keluarga, pekerjaan, rumah tangga, atau kesalahan seseorang yang sebenarnya tidak perlu diketahui orang lain.
“Tapi Kan Saya Cuma Bilang yang Benar”
Ini merupakan salah satu kesalahpahaman yang paling sering terjadi.
Justru hadis Nabi ﷺ menjelaskan bahwa jika sesuatu yang dibicarakan itu benar, tetap dapat menjadi ghibah. Sedangkan apabila yang dibicarakan ternyata tidak benar, persoalannya menjadi lebih berat karena masuk dalam tuduhan atau kebohongan terhadap orang tersebut.
Karena itu, kalimat seperti:
- “Saya tidak bohong, memang dia begitu.”
- “Semua yang saya ceritakan benar.”
- “Saya cuma menyampaikan fakta.”
tidak otomatis membuat pembicaraan tersebut menjadi halal.
Pertanyaan yang lebih tepat adalah:
Apakah ada alasan yang benar dan dibenarkan untuk menyampaikan informasi tersebut?
Jika tidak ada, diam sering kali menjadi pilihan yang lebih aman.
Apakah Setiap Pembicaraan tentang Kekurangan Orang Pasti Ghibah?
Tidak selalu.
Dalam keadaan tertentu, menyebutkan kekurangan seseorang dapat dibolehkan apabila terdapat kebutuhan yang nyata dan tujuan yang benar, bukan sekadar keinginan untuk merendahkan atau mempermalukannya.
Para ulama menjelaskan sejumlah keadaan yang menjadi pengecualian terhadap larangan ghibah, di antaranya mengadukan kezaliman kepada pihak yang mampu membantu, meminta fatwa atau nasihat mengenai suatu masalah, memberikan peringatan untuk mencegah bahaya, serta memberikan informasi yang memang diperlukan dalam suatu pertimbangan penting. Penjelasan tafsir terhadap Al-Hujurat 49:12 juga menyebut beberapa keadaan tersebut.
Contohnya, seseorang menjadi korban penipuan dan kemudian meminta bantuan kepada pihak yang berwenang. Ia tentu perlu menjelaskan siapa pelakunya dan bagaimana kejadian tersebut berlangsung.
Dalam kondisi seperti ini, menyampaikan informasi tentang orang lain bukan bertujuan menjatuhkan kehormatannya, melainkan untuk memperoleh penyelesaian atau mencegah kerugian.
Begitu juga ketika seseorang meminta nasihat serius mengenai calon pasangan. Informasi yang relevan tentang karakter atau perilaku calon mungkin perlu disampaikan agar orang yang meminta nasihat tidak tertipu. Namun, informasi harus disampaikan secukupnya dan sesuai kebutuhan, bukan dijadikan kesempatan untuk membuka semua aib orang tersebut.
Bedakan Ghibah, Fitnah, Kritik, dan Nasihat
Dalam kehidupan sehari-hari, beberapa hal ini sering tercampur.
Ghibah
Membicarakan seseorang dengan sesuatu yang benar-benar ada pada dirinya, tetapi ia tidak menyukainya jika pembicaraan tersebut sampai kepadanya, tanpa kebutuhan yang dibenarkan.
Fitnah atau tuduhan dusta
Menyampaikan sesuatu yang tidak benar tentang seseorang.
Hadis Nabi ﷺ membedakan keduanya: jika yang dibicarakan benar, itu ghibah; jika tidak benar, maka menjadi tuduhan dusta terhadapnya.
Kritik
Kritik tidak otomatis menjadi ghibah. Kritik dapat diperlukan untuk memperbaiki kesalahan, terutama jika disampaikan dengan cara yang benar, berdasarkan fakta, dan bertujuan memperbaiki keadaan.
Namun, istilah “kritik” juga tidak boleh dijadikan alasan untuk bebas menghina atau mempermalukan orang lain.
Nasihat
Nasihat bertujuan memberikan kebaikan dan mencegah keburukan.
Karena itu, seseorang yang memberi nasihat seharusnya bertanya kepada dirinya sendiri: apakah saya benar-benar ingin membantu, atau sebenarnya saya sedang menikmati pembicaraan tentang keburukan orang lain?
Bagaimana dengan Membicarakan Kesalahan Orang di Grup WhatsApp?
Persoalan ini semakin relevan karena ghibah tidak hanya terjadi dalam percakapan langsung.
Membicarakan seseorang di grup WhatsApp, Telegram, media sosial, forum online, atau percakapan pribadi tetap perlu dinilai dengan prinsip yang sama.
Bahkan, media digital dapat membuat persoalan menjadi lebih serius karena sebuah komentar dapat disalin, diteruskan, discreenshot, dan disebarkan kepada lebih banyak orang.
Misalnya seseorang menulis:
“Kalian tahu tidak, si A itu sebenarnya orangnya begini dan begitu…”
Jika informasi tersebut merupakan sesuatu yang tidak disukai oleh A apabila mengetahuinya, dan tidak ada kebutuhan syar’i untuk menyampaikannya, maka kita tidak boleh menganggapnya aman hanya karena pembicaraannya dilakukan melalui layar.
Ghibah tidak menjadi halal hanya karena dilakukan secara digital.
Bagaimana Jika Kita Hanya Menanggapi Ghibah Orang Lain?
Ini juga perlu diperhatikan.
Kadang seseorang tidak memulai pembicaraan, tetapi ikut menikmati percakapan tersebut. Ia tertawa, memberikan komentar tambahan, mengajukan pertanyaan yang membuat cerita semakin panjang, atau meneruskan informasi tersebut kepada orang lain.
Sikap seperti ini dapat ikut memperpanjang dosa dan kerusakan dari sebuah pembicaraan.
Karena itu, ketika pembicaraan mulai berubah menjadi ajang membongkar aib seseorang, seorang Muslim sebaiknya berusaha menghentikannya atau mengalihkan topik.
Jika tidak mampu melakukan itu, meninggalkan percakapan tersebut dapat menjadi pilihan yang lebih aman.
Bagaimana Jika Kita Terlanjur Ghibah?
Tidak perlu merasa bahwa kesalahan tersebut tidak mungkin diperbaiki.
Ayat Al-Qur’an yang melarang ghibah juga mengingatkan bahwa Allah adalah Maha Penerima Tobat dan Maha Penyayang.
Langkah pertama adalah segera menghentikan kebiasaan tersebut dan menyesalinya.
Kemudian, bertekad untuk tidak mengulanginya. Jika ada hak orang lain yang dirugikan, persoalan tersebut perlu ditangani dengan bijaksana. Dalam kasus yang berbeda, cara memperbaikinya juga dapat berbeda, sehingga seseorang dapat meminta nasihat kepada ustaz atau ahli ilmu yang terpercaya apabila situasinya rumit.
Yang penting, jangan menjadikan rasa bersalah sebagai alasan untuk terus membicarakan kesalahan yang sama.
Cara Sederhana Menghindari Ghibah
Sebelum membicarakan keburukan seseorang, coba berhenti beberapa detik dan tanyakan:
Apakah orang ini akan sakit hati jika mendengar perkataan saya?
Jika jawabannya “ya”, tanyakan lagi:
Apakah saya memiliki kebutuhan yang benar untuk menyampaikannya?
Jika jawabannya “tidak”, diam mungkin merupakan pilihan terbaik.
Beberapa kebiasaan berikut juga dapat membantu:
- Hindari menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan hiburan.
- Jangan meneruskan cerita yang belum jelas kebenarannya.
- Jangan merasa aman hanya karena informasi tersebut benar.
- Hindari membuka aib seseorang di grup atau media sosial.
- Jika perlu memberikan kritik, fokus pada masalah dan solusi, bukan penghinaan terhadap pribadi.
- Jika seseorang meminta nasihat, sampaikan informasi yang benar-benar relevan dan secukupnya.
- Ketika percakapan mulai berubah menjadi ghibah, alihkan topik atau hentikan pembicaraan.
Ghibah Sering Dimulai dari Percakapan yang Terlihat Sepele
Ghibah tidak selalu dimulai dengan kebencian besar.
Kadang dimulai dari kalimat sederhana:
“Eh, kamu tahu tidak tentang dia?”
Lalu berubah menjadi cerita.
Cerita berkembang menjadi komentar.
Komentar berubah menjadi ejekan.
Kemudian orang lain ikut menambahkan cerita.
Tanpa disadari, beberapa orang telah menghabiskan waktu membicarakan seseorang yang bahkan tidak ada di sana.
Karena itu, menjaga lisan bukan berarti tidak boleh berbicara tentang orang lain sama sekali. Islam mengajarkan kita untuk memilih apa yang perlu dikatakan, kepada siapa harus disampaikan, dan untuk tujuan apa pembicaraan itu dilakukan.
Kesimpulan
Ghibah bukan sekadar mengatakan sesuatu yang salah tentang orang lain. Justru salah satu definisi penting dari ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang benar-benar ada pada seseorang tetapi ia tidak menyukainya jika hal tersebut dibicarakan tentang dirinya. Jika yang dikatakan tidak benar, persoalannya menjadi tuduhan dusta.
Namun, Islam juga tidak mengajarkan kita untuk menutup mata terhadap kezaliman, bahaya, atau kebutuhan nyata. Dalam keadaan tertentu, menyampaikan informasi tentang kekurangan seseorang dapat dibenarkan apabila ada kebutuhan yang sah dan tujuannya benar, dengan tetap membatasi pembicaraan sesuai kebutuhan.
Karena itu, sebelum membicarakan keburukan seseorang, ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya:
“Apakah perkataan saya ini benar-benar diperlukan, atau saya hanya sedang menikmati cerita tentang keburukan orang lain?”
Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi salah satu cara menjaga lisan dan kehormatan sesama Muslim.
