Ada masa ketika kita merasa hubungan dengan Allah tidak lagi seperti dahulu. Shalat masih dilakukan, tetapi pikiran ke mana-mana. Al-Qurโan masih dibaca, tetapi hati sulit merasakan kedekatan. Doa masih dipanjatkan, tetapi seolah-olah ada jarak yang tidak mudah dijelaskan. Dulu kita mudah menangis ketika mengingat Allah, sekarang hati terasa biasa saja. Dulu ada kerinduan untuk berlama-lama dalam doa, sekarang kita justru ingin segera menyelesaikan ibadah agar dapat kembali kepada kesibukan.
Lalu kita bertanya, โMengapa saya merasa jauh dari Allah?โ Mungkin kita perlu berhenti sejenak sebelum mencari jawabannya. Jangan-jangan bukan Allah yang menjauh, tetapi hati kita yang terlalu sibuk. Kita memenuhi hari dengan pekerjaan, urusan keluarga, media sosial, berita, hiburan, target, kekhawatiran, dan berbagai keinginan. Bahkan ketika tubuh sedang berdiri dalam shalat, pikiran masih sibuk memikirkan pekerjaan. Ketika membaca Al-Qurโan, tangan mungkin masih ingin memeriksa ponsel. Ketika berdoa, hati sibuk memikirkan apa yang akan dilakukan setelahnya.
Allah berfirman, โDan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.โ (QS. Qaf [50]: 16). Ayat ini mengingatkan bahwa Allah mengetahui keadaan kita secara sempurna. Dia mengetahui kegelisahan yang tidak mampu kita ceritakan kepada siapa pun, mengetahui air mata yang kita sembunyikan, mengetahui dosa yang membuat kita malu, bahkan mengetahui isi hati sebelum kita mampu menyusunnya menjadi kata-kata. Maka ketika kita merasa jauh, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Allah telah meninggalkan kita. Bisa jadi yang perlu kita periksa justru arah hati kita sendiri.
Ketika Hati Terlalu Penuh
Bayangkan seseorang yang terus menatap layar ponselnya ketika orang lain sedang berbicara kepadanya. Suara di sekelilingnya tetap ada, tetapi ia tidak benar-benar mendengar. Bukan karena orang itu berhenti berbicara, melainkan karena perhatiannya diberikan kepada sesuatu yang lain. Begitu pula hati manusia. Kita sering menginginkan ketenangan dari Allah, tetapi hampir seluruh perhatian kita diberikan kepada dunia. Kita ingin hati tenteram, tetapi hidup kita dipenuhi kebisingan.
Allah berfirman, โIngatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.โ (QS. Ar-Raโd [13]: 28). Ketenangan yang dimaksud bukan berarti seorang yang dekat dengan Allah akan terbebas dari masalah. Nabi dan orang-orang saleh tetap mengalami kehilangan, kesedihan, ketakutan, dan ujian. Bedanya, ketika dunia terasa berat, mereka memiliki tempat untuk kembali. Hati mereka tidak sepenuhnya bergantung kepada keadaan. Ada Allah yang menjadi tempat bersandar.
Kita sering mencari ketenangan ke banyak tempat. Ketika gelisah, kita membuka media sosial. Ketika kecewa, kita mencari hiburan. Ketika merasa kurang, kita membeli sesuatu. Ketika takut tertinggal, kita bekerja lebih keras. Ketika merasa tidak dihargai, kita mencari pengakuan dari manusia. Semua itu mungkin memberikan kesenangan untuk sementara, tetapi kesenangan tidak selalu sama dengan ketenangan. Kita bisa tertawa tanpa benar-benar bahagia, memiliki banyak teman tetapi merasa sendirian, bahkan memperoleh sesuatu yang sangat kita inginkan tetapi tetap merasakan kekosongan.
Barangkali yang kurang bukan sesuatu yang bisa kita beli. Barangkali hati kita sedang membutuhkan kembali hubungan dengan Penciptanya.
Jangan Menunggu Sempurna untuk Kembali
Ada hal lain yang sering membuat manusia semakin jauh dari Allah: merasa tidak pantas untuk kembali. Kita berkata dalam hati, โDosa saya terlalu banyak.โ Atau, โSaya masih sering melakukan kesalahan. Untuk apa berdoa?โ Ada pula yang merasa harus menjadi baik terlebih dahulu sebelum mendekat kepada Allah. Padahal justru karena kita memiliki dosa dan kelemahan, kita membutuhkan Allah.
Orang sakit tidak menunggu sembuh untuk mencari pengobatan. Orang yang tersesat tidak menunggu menemukan jalan sebelum bertanya arah. Begitu pula seorang hamba yang merasa jauh dari Allah tidak perlu menunggu dirinya menjadi sempurna untuk kembali. Datanglah dengan keadaan kita sekarang: dengan dosa yang ingin ditinggalkan, dengan hati yang masih lemah, dengan ibadah yang belum sempurna, dan dengan keinginan untuk berubah yang mungkin berkali-kali gagal diwujudkan.
Rasulullah ๏ทบ bersabda dalam hadis qudsi bahwa Allah berfirman, โAku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.โ (HR. Sahih al-Bukhari no. 7505). Hadis ini mengajarkan agar kita tidak berputus asa dari rahmat Allah. Kita memang harus takut kepada dosa dan tidak merasa aman darinya, tetapi rasa takut itu seharusnya mendorong kita untuk bertobat, bukan membuat kita menjauh dari Allah. Selama kita masih hidup, kesempatan untuk memperbaiki diri masih terbuka.
Mendekat Tidak Selalu Harus Dimulai dengan Sesuatu yang Besar
Kadang kita ingin berubah secara drastis. Kita ingin langsung membaca Al-Qurโan dalam jumlah banyak, memperbanyak ibadah sunnah, meninggalkan semua kebiasaan buruk, dan menjadi manusia yang jauh lebih baik dalam waktu singkat. Semangat seperti itu patut disyukuri, tetapi perubahan yang bertahan lama sering kali justru tumbuh dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten.
Mulailah dengan menghadirkan hati dalam shalat. Ketika membaca Al-Qurโan, jangan hanya mengejar jumlah halaman, tetapi berhenti sejenak untuk memahami apa yang sedang Allah sampaikan. Ketika berdoa, jangan hanya mengucapkan kalimat yang sudah biasa, tetapi ceritakan kepada Allah apa yang benar-benar sedang kita rasakan. Luangkan beberapa menit setiap hari tanpa ponsel dan tanpa gangguan untuk berdzikir, beristighfar, dan mengingat kembali perjalanan hidup kita.
Mendekat kepada Allah juga berarti berani mengurangi hal-hal yang membuat hati terlalu bising. Tidak semua berita perlu kita ikuti. Tidak semua perdebatan perlu kita masuki. Tidak semua kehidupan orang lain perlu kita ketahui. Tidak semua keinginan harus dipenuhi. Hati memiliki ruang yang terbatas. Jika seluruh ruang itu dipenuhi oleh dunia, kapan kita memberikan ruang untuk mengingat Allah?
Bukan berarti kita harus meninggalkan pekerjaan, teknologi, atau kehidupan sosial. Kita tetap hidup di dunia dan menjalankan tanggung jawab di dalamnya. Yang perlu kita lakukan adalah mengembalikan segala sesuatu ke tempatnya. Dunia boleh berada di tangan, tetapi jangan sampai menetap di hati.
Muhasabah Hari Kedua
Hari ini, tanyakan kepada diri sendiri dengan jujur: kapan terakhir kali saya benar-benar merasa dekat dengan Allah? Bukan sekadar melakukan ibadah, tetapi merasa bahwa hati sedang menghadap dan berbicara kepada-Nya. Apa yang berbeda pada masa itu? Apakah kita lebih sering membaca Al-Qurโan? Lebih sedikit bermain dengan ponsel? Lebih banyak berdoa? Atau justru ketika hidup sedang sulit sehingga kita lebih sering mengingat Allah?
Kemudian tanyakan pertanyaan yang mungkin lebih berat: apa yang paling banyak mengambil perhatian hati saya sekarang? Apakah Allah, keluarga, kebaikan, dan akhirat, atau pekerjaan, uang, penampilan, pengakuan manusia, dan keinginan untuk memiliki lebih banyak? Tidak perlu merasa malu terhadap jawaban yang muncul. Muhasabah bukan ruang untuk menghukum diri sendiri. Ia adalah ruang untuk melihat keadaan hati dengan jujur agar kita tahu bagian mana yang harus diperbaiki.
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencari tanda bahwa Allah dekat, sementara kita sendiri jarang menyediakan waktu untuk mendekat. Kita berharap hati tenang, tetapi tidak memberi hati kesempatan untuk berdzikir. Kita berharap doa terasa dekat, tetapi berdoa hanya ketika keadaan sudah sangat mendesak. Kita ingin mencintai Allah, tetapi perhatian kita hampir selalu diberikan kepada selain-Nya.
Namun jangan berhenti pada penyesalan. Jadikan kesadaran itu sebagai langkah pertama untuk kembali.
Jalan Pulang Itu Masih Terbuka
Jika hari ini kita merasa jauh dari Allah, jangan putus asa. Jika hati terasa keras, teruslah mengetuknya dengan dzikir dan Al-Qurโan. Jika ibadah terasa berat, jangan meninggalkannya. Jika kita jatuh kembali ke dalam dosa, bertobatlah kembali. Jangan biarkan kegagalan dalam memperbaiki diri berubah menjadi alasan untuk berhenti memperbaiki diri.
Kita mungkin membutuhkan waktu. Kita mungkin akan jatuh berkali-kali. Tetapi perjalanan kepada Allah bukan tentang siapa yang tidak pernah jatuh. Ia tentang siapa yang setiap kali jatuh masih mau bangkit dan kembali.
Hari pertama mengajak kita menyadari bahwa hidup ini adalah perjalanan dan dunia bukan tujuan akhir. Hari kedua mengajak kita melihat sesuatu yang lebih dalam: dalam perjalanan itu, jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar dunia hingga hati kehilangan kedekatan dengan Allah.
Maka malam ini, sebelum tidur, cobalah berhenti beberapa menit. Letakkan ponsel. Tinggalkan sejenak pekerjaan dan segala urusan. Tidak perlu membuat doa yang panjang. Cukup katakan dengan jujur kepada Allah, โYa Allah, aku telah terlalu sibuk. Aku sering melupakan-Mu. Aku ingin kembali dekat kepada-Mu. Tolong jangan biarkan hatiku semakin jauh.โ
Mungkin kita belum mampu menjadi hamba yang sempurna. Tetapi kita selalu bisa menjadi hamba yang sedang kembali.
Sebab Allah tidak pernah meminta kita datang kepada-Nya setelah hidup kita sempurna. Datanglah sekarang, dengan segala kekurangan kita. Karena bisa jadi, jalan pulang yang selama ini kita cari sebenarnya tidak pernah tertutup. Kitalah yang terlalu sibuk berjalan ke arah lain.








