Ketika Allah Mengambil Sesuatu yang Sangat Kita Cintai

Ada kehilangan yang tidak mudah dijelaskan dengan kata-kata. Kehilangan orang yang kita cintai, pekerjaan yang selama ini menjadi sandaran, kesehatan yang dahulu kita anggap biasa, rumah yang penuh kenangan, atau sesuatu yang sudah bertahun-tahun kita perjuangkan. Ketika sesuatu itu tiba-tiba pergi, rasanya bukan hanya satu bagian dari kehidupan yang hilang. Seolah-olah sebagian dari diri kita ikut dibawa pergi bersamanya.

Pada saat seperti itu, nasihat tentang kesabaran terkadang terdengar terlalu sederhana. Kita tahu bahwa Allah memiliki rencana. Kita tahu bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan. Tetapi mengetahui hal itu tidak otomatis membuat hati tidak sakit. Kita tetap menangis. Kita tetap merasa kehilangan. Kita tetap bertanya, “Mengapa harus saya? Mengapa harus sekarang? Mengapa Allah mengambil sesuatu yang begitu saya cintai?”

Pertanyaan-pertanyaan itu manusiawi. Islam tidak mengajarkan kita untuk berpura-pura kuat ketika hati sedang hancur. Yang diajarkan adalah bagaimana membawa kehancuran itu kepada Allah, bukan menjauhi-Nya karena kecewa. Kehilangan boleh membuat kita menangis, tetapi jangan sampai membuat kita kehilangan keyakinan bahwa Allah tetap Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.

Allah berfirman, “Dan sungguh, Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 155).

Perhatikan bahwa Allah tidak mengatakan kehidupan orang beriman akan bebas dari kehilangan. Justru Allah memberitahukan bahwa ujian adalah bagian dari kehidupan. Harta bisa berkurang, orang yang dicintai bisa pergi, kesehatan bisa berubah, dan sesuatu yang kita perjuangkan bisa tidak menjadi milik kita. Namun di tengah semua itu, Allah menyebutkan kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar.

Kita Tidak Selalu Mengerti Mengapa Allah Mengambil

Ketika mendapatkan sesuatu yang kita sukai, kita mudah mengatakan bahwa itu adalah nikmat Allah. Tetapi ketika sesuatu yang kita cintai diambil, kita sering kesulitan melihatnya sebagai bagian dari ketetapan Allah. Kita merasa kehilangan sesuatu yang seharusnya tetap menjadi milik kita.

Padahal sejak awal, tidak ada satu pun yang benar-benar kita miliki secara mutlak. Kesehatan adalah titipan. Anak adalah titipan. Orang tua adalah titipan. Pasangan adalah titipan. Harta adalah titipan. Pekerjaan adalah titipan. Bahkan umur kita sendiri adalah titipan.

Allah berfirman, “Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.” (QS. Al-Baqarah [2]: 284). Karena semuanya milik Allah, maka setiap pemberian sebenarnya adalah amanah dan setiap pengambilan adalah bagian dari hak-Nya. Ini tidak membuat kehilangan menjadi tidak menyakitkan, tetapi dapat mengubah cara kita memandang rasa sakit tersebut.

Kita boleh berkata, “Ya Allah, aku sangat mencintainya.” Kita boleh menangis karena kehilangan. Tetapi perlahan kita belajar menambahkan kalimat, “Namun aku tahu, Engkau lebih mengetahui apa yang baik bagiku.”

Di situlah tawakal mulai tumbuh.

Menangis Tidak Berarti Tidak Ridha

Ada anggapan bahwa orang yang sabar harus selalu terlihat kuat, tidak boleh menangis, dan tidak boleh menunjukkan kesedihan. Padahal Rasulullah ﷺ sendiri pernah menangis ketika putranya, Ibrahim, wafat. Beliau bersabda, “Sesungguhnya mata menangis dan hati bersedih, tetapi kami tidak mengatakan kecuali apa yang diridhai oleh Rabb kami.” (HR. Sahih al-Bukhari no. 1303 dan Sahih Muslim no. 2315).

Hadis ini memberikan pelajaran yang sangat indah. Rasulullah ﷺ menangis, tetapi tangisannya tidak membuat beliau mempertanyakan Allah. Hati beliau bersedih, tetapi lisannya tetap menjaga apa yang diridhai Allah.

Jadi, jangan merasa bersalah hanya karena kita menangis ketika kehilangan. Air mata bukan tanda bahwa kita gagal bersabar. Kesabaran bukan berarti tidak merasakan sakit. Kesabaran adalah kemampuan untuk tetap menjaga iman dan sikap kita kepada Allah ketika rasa sakit itu datang.

Kita boleh sedih. Kita boleh merindukan orang yang telah pergi. Kita boleh membutuhkan waktu untuk menerima kenyataan. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai kesedihan membawa kita kepada prasangka buruk kepada Allah atau membuat kita menolak ketetapan-Nya.

Ada Kehilangan yang Baru Kita Pahami Bertahun-Tahun Kemudian

Kita sering menilai sebuah peristiwa berdasarkan apa yang kita rasakan hari ini. Ketika sesuatu pergi, kita langsung menyimpulkan bahwa hidup kita menjadi lebih buruk. Padahal kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian.

Berapa banyak manusia yang pernah menangisi sesuatu yang tidak didapatkannya, tetapi bertahun-tahun kemudian bersyukur karena Allah tidak memberikannya? Berapa banyak orang yang menganggap sebuah perpisahan sebagai akhir kebahagiaan, tetapi kemudian menemukan kehidupan yang jauh lebih baik? Berapa banyak kegagalan yang pada awalnya terasa seperti kehancuran, tetapi ternyata menjadi pintu menuju jalan yang tidak pernah mereka bayangkan?

Kita tidak selalu memiliki kemampuan untuk melihat hikmah pada saat musibah terjadi. Dan kita tidak perlu memaksakan diri untuk langsung memahami semuanya. Ada luka yang membutuhkan waktu sebelum kita mampu melihat pelajaran di baliknya.

Yang perlu kita lakukan adalah tetap percaya bahwa ketidaktahuan kita tidak berarti Allah tidak memiliki hikmah.

Allah berfirman, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216).

Kita hanya melihat satu potongan cerita. Allah mengetahui keseluruhannya.

Jangan Biarkan Kehilangan Mengambil Allah dari Hati Kita

Ada orang yang ketika kehilangan sesuatu justru semakin dekat kepada Allah. Ada pula yang sebaliknya: ia kecewa, marah, lalu perlahan meninggalkan shalat, meninggalkan doa, dan menjauh dari Al-Qur’an. Padahal saat kehilangan datang, justru itulah saat kita paling membutuhkan tempat untuk bersandar.

Manusia bisa mengecewakan kita. Keadaan bisa berubah. Harta bisa hilang. Orang yang kita cintai bisa pergi. Tetapi Allah tidak pernah berubah menjadi bukan Allah. Dia tetap Rabb yang sama sebelum kehilangan terjadi dan setelah kehilangan terjadi.

Karena itu, ketika sesuatu diambil dari kita, jangan hanya bertanya, “Mengapa Allah mengambilnya?” Cobalah bertanya lebih dalam, “Apa yang Allah ingin ajarkan kepada saya melalui kehilangan ini?”

Mungkin Allah sedang mengajarkan bahwa kita terlalu bergantung kepada makhluk. Mungkin Allah sedang mengingatkan bahwa dunia memang sementara. Mungkin Allah sedang membersihkan hati dari sesuatu yang terlalu kita cintai hingga melupakan-Nya. Atau mungkin kita belum akan memahami hikmahnya sekarang. Tidak apa-apa. Kita tidak harus mengetahui semua jawaban untuk tetap percaya kepada Allah.

Apa yang Bisa Kita Lakukan Ketika Kehilangan?

Pertama, izinkan diri kita berduka dengan cara yang benar. Jangan memaksa diri untuk langsung terlihat kuat. Berikan ruang bagi hati untuk menerima kenyataan sambil tetap menjaga ibadah. Menangislah kepada Allah, bukan menjauh dari Allah.

Kedua, kembalikan sesuatu yang hilang itu kepada Pemiliknya. Ucapkan dengan hati yang perlahan belajar menerima: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali. Kalimat ini bukan sekadar ucapan ketika seseorang meninggal. Ia adalah pengingat bahwa seluruh kehidupan kita berada dalam kepemilikan Allah.

Ketiga, jangan berhenti mengambil sebab. Jika kehilangan pekerjaan, teruslah mencari pekerjaan. Jika kehilangan kesehatan, berobatlah. Jika kehilangan kesempatan, cari jalan lain. Tawakal bukan berarti berhenti berusaha. Tawakal berarti melakukan apa yang mampu kita lakukan, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Keempat, jangan ukur kasih sayang Allah hanya dari apa yang Dia berikan. Kadang kasih sayang Allah hadir dalam bentuk pemberian, kadang dalam bentuk perlindungan, dan kadang dalam bentuk sesuatu yang tidak kita pahami. Tidak semua yang Allah takdirkan harus langsung kita sukai agar kita tetap percaya kepada-Nya.

Muhasabah Hari Keenam

Hari ini, pikirkan sesuatu yang pernah atau sedang kita kehilangan. Apa yang paling menyakitkan dari kehilangan itu? Apakah benda atau orangnya, perubahan kehidupan setelahnya, atau rasa takut menghadapi masa depan?

Kemudian tanyakan kepada diri sendiri: Apakah kehilangan ini membuat saya semakin dekat kepada Allah atau justru semakin jauh? Jika selama ini kita hanya menangisi apa yang pergi, mungkin hari ini saatnya melihat apa yang masih Allah tinggalkan. Masih ada napas. Masih ada kesempatan bertobat. Masih ada orang-orang yang mencintai kita. Masih ada waktu untuk memperbaiki diri. Dan yang paling penting, masih ada Allah yang tidak pernah pergi.

Mungkin kita belum mampu berkata, “Aku ikhlas.” Tidak perlu memaksakan kata itu jika hati belum sampai. Mulailah dengan kalimat yang lebih sederhana: “Ya Allah, aku masih sedih. Aku masih sakit. Tetapi aku tidak ingin kehilangan-Mu karena kehilangan ini.”

Itu pun sudah merupakan langkah besar.

Ketika Allah Mengambil, Jangan Berhenti Pulang

Kehilangan mengajarkan sesuatu yang sering kita lupakan ketika hidup berjalan baik: tidak ada satu pun yang dapat kita genggam selamanya. Apa yang kita cintai hari ini suatu saat akan kita tinggalkan, atau mungkin lebih dahulu meninggalkan kita. Karena itu, jangan jadikan dunia sebagai tempat menggantungkan seluruh kebahagiaan.

Kita boleh mencintai manusia, tetapi cintailah Allah lebih dalam. Kita boleh mencintai harta, tetapi jangan biarkan harta menjadi sandaran hati. Kita boleh menikmati kesehatan, pekerjaan, keluarga, dan berbagai nikmat lainnya, tetapi selalu ingat bahwa semuanya adalah titipan.

Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita bahwa ketika musibah menimpa seorang Muslim lalu ia mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” dan memohon pahala kepada Allah, Allah akan memberikan pahala atas musibahnya dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. Hal ini disebutkan dalam Sahih Muslim no. 918, dalam kisah Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha.

Kita mungkin belum tahu apa bentuk pengganti yang Allah siapkan. Bisa berupa sesuatu di dunia, bisa berupa ketenangan hati, kekuatan untuk menjalani kehidupan, atau pahala yang baru kita temukan kelak di akhirat. Tugas kita bukan menentukan bentuk penggantinya. Tugas kita adalah tetap percaya kepada Allah.

Maka jika hari ini Allah sedang mengambil sesuatu yang sangat kita cintai, menangislah jika memang perlu. Bersedihlah jika hati belum mampu menerima. Tetapi jangan berhenti berdoa. Jangan tinggalkan shalat. Jangan menjauh dari Al-Qur’an. Jangan biarkan kehilangan membuat kita kehilangan arah.

Sebab mungkin yang sedang Allah ajarkan bukan bagaimana hidup tanpa sesuatu yang kita cintai, tetapi bagaimana tetap mencintai Allah ketika sesuatu yang kita cintai tidak lagi berada di sisi kita.

Dan suatu hari nanti, ketika kita telah memahami seluruh perjalanan hidup ini, mungkin kita akan melihat bahwa tidak semua yang pergi adalah hukuman. Sebagian adalah pelajaran. Sebagian adalah perlindungan. Sebagian adalah cara Allah mengosongkan tangan kita agar kita kembali menggenggam-Nya.

Apa pun yang Allah titipkan kepada kita, cintailah dengan syukur. Apa pun yang Allah ambil, lepaskan dengan sabar. Sebab yang benar-benar tidak boleh kita kehilangan bukanlah apa yang ada di dunia, melainkan hubungan kita dengan Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *