Menonton Film yang Mengandung Adegan Tidak Pantas, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?

Menonton film menjadi salah satu hiburan yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai layanan streaming membuat seseorang bisa memilih film kapan saja, baik untuk mengisi waktu luang, bersantai setelah bekerja, maupun menikmati cerita bersama keluarga.

Namun, ada persoalan yang sering muncul: bagaimana jika film yang sebenarnya menarik ternyata mengandung adegan tidak pantas?

Sebagian orang mungkin langsung menutup film tersebut. Sebagian lainnya memilih melewati adegan tertentu. Ada pula yang tetap menonton karena merasa adegannya hanya berlangsung sebentar atau merupakan bagian dari cerita.

Dalam Islam, persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan judul film, tetapi juga dengan apa yang dilihat, bagaimana seseorang melihatnya, serta apakah ia sengaja mempertahankan pandangan terhadap sesuatu yang dilarang.

Islam Mengajarkan Menjaga Pandangan

Salah satu dasar penting dalam persoalan ini adalah perintah Allah untuk menjaga pandangan.

Allah berfirman dalam Surah An-Nur ayat 30:

“Katakanlah kepada orang-orang mukmin agar mereka menundukkan pandangan dan menjaga kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.”

Perintah tersebut menunjukkan bahwa pandangan bukan sesuatu yang dianggap sepele dalam Islam.

Mata dapat menjadi pintu masuk bagi berbagai hal yang memengaruhi hati dan perilaku. Karena itu, seorang Muslim tidak hanya diperintahkan menjaga perbuatan, tetapi juga mengendalikan apa yang sengaja ia lihat.

Perintah menjaga pandangan juga berlaku bagi perempuan. Dalam ayat berikutnya, Allah memerintahkan perempuan beriman untuk menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan diri.

Dengan demikian, persoalan adegan tidak pantas dalam film bukan hanya berlaku bagi laki-laki, tetapi juga bagi perempuan.

Bagaimana Jika Adegan Tidak Pantas Muncul Tiba-Tiba?

Ini merupakan keadaan yang cukup berbeda.

Seseorang mungkin memilih film yang menurutnya biasa saja. Namun, di tengah cerita tiba-tiba muncul adegan seksual, ketelanjangan, atau tampilan yang tidak layak untuk dipandang.

Dalam keadaan seperti ini, seseorang tidak selalu dapat mengendalikan apa yang pertama kali tertangkap oleh matanya.

Yang menjadi persoalan adalah apa yang dilakukan setelah menyadarinya.

Jika seseorang segera memalingkan pandangan, menutup layar, melewati adegan, atau menghentikan film, keadaan tersebut berbeda dengan sengaja terus memperhatikan dan menikmati adegan tersebut.

Prinsip ini sejalan dengan ajaran Nabi Muhammad SAW mengenai pandangan. Dalam hadis sahih disebutkan bahwa “zina mata” adalah pandangan, sementara hati dapat menginginkan sesuatu dan anggota tubuh kemudian membenarkan atau tidak membenarkannya.

Karena itu, ketika adegan tidak pantas muncul secara tiba-tiba, langkah yang aman adalah segera mengalihkan pandangan dan tidak sengaja memperpanjangnya.

Bagaimana Hukum Jika Sengaja Menonton Adegan Tidak Pantas?

Jika yang dimaksud dengan adegan tidak pantas adalah ketelanjangan, hubungan seksual, atau tampilan yang membangkitkan syahwat dan memang sengaja dinikmati, maka seorang Muslim seharusnya menghindarinya.

Masalahnya bukan sekadar karena adegan tersebut merupakan bagian dari film, melainkan karena seseorang dengan sengaja mempertahankan pandangan terhadap sesuatu yang bertentangan dengan perintah menjaga pandangan.

Dengan kata lain, kalimat “itu kan cuma film” tidak otomatis membuat semua isi film menjadi boleh.

Islam melihat perbuatan yang dilakukan seseorang, termasuk apa yang sengaja ia lihat dan nikmati.

Hal ini juga menjelaskan mengapa sebuah film yang secara keseluruhan memiliki cerita bagus belum tentu seluruh isinya layak ditonton.

Apakah Filmnya Otomatis Haram Jika Ada Satu Adegan?

Tidak tepat menyederhanakan persoalan dengan mengatakan bahwa setiap film yang memiliki satu adegan tidak pantas otomatis sama hukumnya dalam semua keadaan.

Perlu dilihat isi adegannya, konteksnya, serta sikap orang yang menontonnya.

Misalnya, seseorang menonton film yang pada umumnya bersih, tetapi terdapat satu adegan yang tidak pantas dan dapat dilewati. Ketika adegan tersebut muncul, ia segera menutup mata atau melakukan skip.

Keadaannya berbeda dengan seseorang yang mengetahui sejak awal bahwa film tersebut penuh adegan seksual, tetapi tetap memilih menontonnya karena ingin menikmati adegan tersebut.

Perbedaan antara terpapar secara tidak sengaja dan sengaja mencari serta menikmati merupakan hal penting dalam memahami persoalan ini.

Bagaimana Jika Adegan Romantis tetapi Tidak Sampai Telanjang?

Istilah “adegan tidak pantas” sebenarnya cukup luas.

Tidak semua adegan romantis otomatis memiliki hukum yang sama. Karena itu, seseorang perlu melihat kandungan adegannya dan dampaknya terhadap dirinya.

Jika sebuah adegan mengandung unsur seksual yang jelas, memperlihatkan aurat, atau sengaja membangkitkan syahwat, maka menghindarinya merupakan sikap yang lebih selamat.

Sementara adegan yang sekadar menggambarkan hubungan antartokoh tanpa unsur seksual tidak dapat begitu saja disamakan dengan adegan pornografis.

Dalam persoalan seperti ini, kehati-hatian tetap penting, terutama jika seseorang mengetahui bahwa tontonan tersebut membuat dirinya sulit menjaga pandangan atau memicu keinginan yang tidak baik.

Bagaimana Jika Film Itu Memiliki Banyak Adegan Tidak Pantas?

Jika seseorang sudah mengetahui bahwa sebuah film memang banyak mengandung adegan seksual atau materi yang tidak pantas, pilihan yang lebih baik adalah mencari tontonan lain.

Terlebih jika adegan tersebut merupakan bagian utama dari film dan tidak mungkin dihindari hanya dengan menekan tombol skip.

Menghindari sesuatu yang berpotensi merusak penjagaan pandangan merupakan bentuk kehati-hatian terhadap diri sendiri.

Islam tidak mengajarkan seseorang untuk sengaja mendekati sesuatu yang dapat menyeretnya kepada perbuatan yang lebih buruk.

Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu mendekati zina…” (QS. Al-Isra: 32).

Larangan dalam ayat tersebut menggunakan ungkapan “jangan mendekati”, bukan hanya larangan melakukan zina. Ini menjadi pengingat bahwa seorang Muslim juga perlu memperhatikan jalan atau kebiasaan yang dapat mengarah kepada perbuatan tersebut.

Bagaimana Jika Menonton Film Bersama Keluarga?

Persoalan ini menjadi lebih penting ketika film ditonton bersama pasangan, anak, atau anggota keluarga lainnya.

Orang tua, misalnya, bukan hanya bertanggung jawab terhadap apa yang mereka konsumsi sendiri, tetapi juga perlu mempertimbangkan tontonan yang diberikan kepada anak.

Film yang dianggap “aman untuk keluarga” sebaiknya tetap diperiksa terlebih dahulu karena label usia atau genre tidak selalu menggambarkan seluruh isi secara rinci.

Jika ada pilihan film yang lebih bersih dengan nilai cerita yang baik, memilih tontonan tersebut merupakan keputusan yang lebih bijaksana.

Hiburan tetap boleh memiliki tempat dalam kehidupan seorang Muslim. Namun, hiburan tidak semestinya mengorbankan prinsip agama.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Ketika Adegan Tidak Pantas Muncul?

Ada beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan.

Pertama, segera alihkan pandangan.

Tidak perlu menunggu adegan selesai. Jika menyadari bahwa adegan tersebut tidak pantas untuk dilihat, segera palingkan pandangan atau tutup layar.

Kedua, gunakan fitur skip.

Pada layanan streaming tertentu, seseorang dapat melewati bagian tertentu. Jika durasinya singkat dan bagian tersebut memang dapat dilewati, pilihan ini dapat membantu menjaga pandangan.

Ketiga, hentikan film jika adegannya terlalu banyak.

Jika seseorang harus terus-menerus menekan tombol skip karena sebagian besar film berisi materi yang tidak pantas, mungkin persoalannya bukan lagi sekadar satu adegan. Mencari film lain bisa menjadi pilihan yang lebih baik.

Keempat, jangan mencari versi atau potongan adegannya.

Salah satu persoalan di era internet adalah ketika seseorang awalnya hanya menemukan adegan secara tidak sengaja, tetapi kemudian justru mencari kembali potongan tersebut di media sosial atau mesin pencari.

Di sinilah seseorang perlu jujur terhadap dirinya sendiri.

Kelima, pilih tontonan sebelum mulai menonton.

Kebiasaan memeriksa sinopsis, klasifikasi usia, dan informasi konten sebelum menonton dapat membantu seseorang menghindari situasi yang sulit.

Bagaimana Jika Sudah Terlanjur Menonton?

Tidak sedikit orang yang setelah melihat adegan tidak pantas justru merasa bersalah dan bingung harus berbuat apa.

Jika seseorang menyadari bahwa ia telah melakukan sesuatu yang tidak semestinya, jangan menjadikan rasa bersalah sebagai alasan untuk terus melakukannya.

Berhenti, alihkan pandangan, dan jika memang melakukan dosa dengan sengaja, bertaubatlah kepada Allah.

Taubat tidak harus menunggu seseorang menjadi sempurna.

Yang penting adalah meninggalkan perbuatan tersebut, menyesalinya, memohon ampun kepada Allah, dan berusaha tidak mengulanginya.

Allah membuka pintu taubat bagi hamba-Nya. Karena itu, seorang Muslim seharusnya tidak tenggelam dalam keputusasaan setelah melakukan kesalahan.

Jangan Menjadikan Film sebagai Alasan Meremehkan Pandangan

Salah satu tantangan kehidupan modern adalah sesuatu yang dahulu sulit ditemukan kini dapat muncul hanya dengan beberapa sentuhan layar.

Film, serial, media sosial, iklan, video pendek, dan berbagai konten digital dapat menghadirkan gambar yang tidak diinginkan dalam waktu sangat singkat.

Karena itu, menjaga pandangan di zaman sekarang membutuhkan kesadaran yang lebih kuat.

Menjaga pandangan bukan berarti seseorang harus hidup tanpa hiburan. Islam tidak melarang manusia menikmati sesuatu yang halal dan bermanfaat.

Yang perlu dijaga adalah agar hiburan tidak membuat seseorang terbiasa melihat sesuatu yang seharusnya ia hindari.

Jadi, Bagaimana Kesimpulan Hukumnya?

Menonton film tidak otomatis haram hanya karena medianya berupa film. Hukum tontonan perlu dilihat dari isi dan cara seseorang menikmatinya.

Jika film mengandung adegan seksual, ketelanjangan, atau hal lain yang tidak pantas untuk dilihat, seorang Muslim diperintahkan untuk menjaga pandangannya. Jika adegan tersebut muncul tanpa sengaja, hendaknya segera memalingkan pandangan atau melewatinya.

Adapun jika seseorang sengaja menonton, mempertahankan pandangan, dan menikmati adegan seksual atau ketelanjangan, maka hal tersebut bertentangan dengan prinsip menjaga pandangan yang diperintahkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah.

Karena itu, pilihan paling aman adalah memilih tontonan yang bersih sejak awal. Jika sebuah film ternyata memiliki adegan yang tidak pantas, jangan merasa harus menyelesaikannya hanya karena sudah terlanjur menonton sebagian.

Pada akhirnya, ukuran seorang Muslim bukan hanya apakah ia mampu mencari hiburan, tetapi juga apakah ia mampu menentukan batas ketika hiburan mulai mengganggu penjagaan agama dan kehormatan dirinya.

Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan. Prinsip tersebut tetap relevan, termasuk ketika layar hiburan berada di tangan kita sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *