Skip to content
Advertisement 728 × 90

Kaya Menurut Islam Itu Seperti Apa? Bukan Sekadar Banyak Uang

Kaya Menurut Islam Itu Seperti Apa

Banyak orang menganggap seseorang disebut kaya ketika memiliki rumah besar, kendaraan mahal, tabungan berlimpah, atau penghasilan yang jauh di atas kebutuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, ukuran seperti ini memang mudah terlihat.

Namun, Islam memiliki pandangan yang lebih luas tentang kekayaan.

Seorang Muslim boleh menjadi kaya. Memiliki harta yang banyak bukan sesuatu yang otomatis tercela dalam Islam. Yang menjadi persoalan adalah dari mana harta itu diperoleh, bagaimana cara menggunakannya, serta apakah harta tersebut membuat seseorang semakin dekat kepada Allah atau justru menjauhkannya.

Karena itu, kaya menurut Islam tidak cukup diukur dari jumlah uang yang berada di rekening.

Islam Tidak Mengharamkan Menjadi Kaya

Ada anggapan bahwa hidup sederhana dan tidak memiliki banyak harta lebih Islami daripada menjadi orang kaya. Pandangan ini perlu diluruskan.

Islam tidak mengharamkan seorang Muslim memiliki kekayaan. Al-Qur’an bahkan memerintahkan manusia untuk mencari kebahagiaan akhirat tanpa melupakan bagian yang halal dari kehidupan dunia.

Allah berfirman:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia…”
(QS. Al-Qashash: 77)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa kehidupan dunia bukan sesuatu yang harus ditinggalkan seluruhnya. Harta dapat menjadi sarana untuk menjalani kehidupan sekaligus melakukan kebaikan.

Yang perlu diperhatikan adalah posisi harta tersebut di dalam hati.

Seseorang boleh memiliki banyak uang, tetapi jangan sampai uang menjadi tujuan hidup yang mengalahkan kewajiban kepada Allah.

Lalu, Apa Arti Kaya Menurut Islam?

Salah satu penjelasan yang sangat penting terdapat dalam hadis Nabi Muhammad ﷺ:

“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini tidak berarti memiliki banyak harta tidak penting. Nabi ﷺ sedang menunjukkan bahwa jumlah harta bukan satu-satunya ukuran kekayaan.

Ada orang yang memiliki penghasilan besar tetapi selalu merasa kurang.

Sebaliknya, ada orang yang hartanya sederhana tetapi mampu merasa cukup, bersyukur, tidak mengambil hak orang lain, dan tetap tenang dalam menjalani hidup.

Inilah yang sering disebut sebagai kekayaan jiwa.

Kekayaan semacam ini bukan berarti seseorang tidak boleh memiliki keinginan untuk meningkatkan taraf hidup. Seorang Muslim tetap boleh bekerja keras, membangun usaha, menabung, memiliki rumah yang layak, dan merencanakan masa depan.

Bedanya, ia tidak menjadikan harta sebagai satu-satunya sumber harga diri dan kebahagiaan.

Kaya Bukan Berarti Harus Berhenti Bekerja

Memahami konsep kaya dalam Islam juga tidak seharusnya membuat seseorang menjadi pasif.

Islam menghargai kerja dan usaha yang halal. Seorang Muslim boleh mengejar kehidupan ekonomi yang lebih baik selama caranya tidak melanggar syariat.

Karena itu, keinginan seperti:

  • ingin memiliki penghasilan lebih baik,
  • ingin keluar dari kemiskinan,
  • ingin memiliki rumah,
  • ingin membantu orang tua,
  • ingin membiayai pendidikan anak,
  • ingin membangun usaha,
  • atau ingin memiliki tabungan untuk masa depan,

tidak otomatis bertentangan dengan sikap zuhud atau tawakal.

Yang perlu dikoreksi adalah ketika mengejar kekayaan membuat seseorang menghalalkan segala cara.

Misalnya menipu pelanggan, melakukan korupsi, mengambil hak pekerja, memanipulasi timbangan, melakukan riba dalam bentuk yang diharamkan, atau memperoleh keuntungan melalui transaksi yang dilarang.

Harta yang banyak tidak menjadi kemuliaan apabila cara memperolehnya bertentangan dengan ajaran Islam.

Kekayaan Juga Merupakan Amanah

Dalam Islam, harta bukan sekadar milik yang bebas digunakan tanpa pertanggungjawaban.

Allah mengingatkan:

“Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan…”
(QS. Al-Anfal: 28)

Ayat ini mengajarkan bahwa harta dapat menjadi ujian.

Orang miskin diuji dengan keterbatasan. Orang kaya juga diuji dengan kelapangan.

Orang yang memiliki banyak harta akan ditanya tentang bagaimana ia mendapatkannya dan bagaimana ia membelanjakannya.

Karena itu, semakin besar kemampuan seseorang, semakin besar pula peluang kebaikan yang bisa ia lakukan—tetapi sekaligus semakin besar tanggung jawab yang menyertainya.

Kaya yang Baik Tidak Hanya Dinikmati Sendiri

Islam tidak mengajarkan bahwa semua harta harus diberikan kepada orang lain. Seorang Muslim memiliki hak untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya.

Namun, Islam juga mengajarkan kepedulian sosial.

Ada kewajiban seperti zakat bagi orang yang memenuhi syarat. Ada pula sedekah, infak, wakaf, membantu keluarga, menolong tetangga, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya.

Allah berfirman:

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.”
(QS. Ali ‘Imran: 92)

Karena itu, kekayaan yang baik bukan hanya terlihat dari apa yang dimiliki seseorang, tetapi juga dari manfaat yang keluar dari hartanya.

Sebuah kekayaan menjadi lebih bermakna ketika dengannya seseorang dapat menghidupi keluarganya dengan baik, membayar hak pekerja, membantu orang yang kesulitan, mendukung pendidikan, membangun usaha yang bermanfaat, dan menunaikan kewajiban kepada Allah.

Boleh Menikmati Harta, Asalkan Tidak Berlebihan

Islam juga tidak meminta orang kaya hidup dalam kesengsaraan demi dianggap saleh.

Mengenakan pakaian yang baik, tinggal di rumah yang nyaman, menikmati makanan halal, bepergian, atau membeli barang yang dibutuhkan pada dasarnya bukan masalah selama berada dalam batas yang dibenarkan.

Yang perlu dihindari adalah sikap berlebihan dan membanggakan harta.

Allah berfirman:

“…makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.”
(QS. Al-A’raf: 31)

Masalahnya bukan semata-mata pada harga sebuah barang, tetapi pada sikap di balik penggunaannya.

Seseorang dapat membeli sesuatu yang mahal karena mampu dan membutuhkannya tanpa kesombongan. Sebaliknya, barang yang tidak terlalu mahal pun dapat menjadi sumber masalah apabila dibeli hanya untuk pamer, berfoya-foya, atau merendahkan orang lain.

Apakah Orang Kaya Lebih Mulia?

Tidak.

Dalam Islam, kekayaan bukan ukuran utama kemuliaan seseorang.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)

Artinya, seseorang tidak otomatis lebih mulia hanya karena memiliki rumah lebih besar, kendaraan lebih mahal, bisnis lebih besar, atau rekening lebih banyak.

Demikian pula, seseorang tidak otomatis lebih saleh hanya karena hidup miskin.

Kemuliaan seseorang di sisi Allah berkaitan dengan ketakwaannya.

Harta hanyalah salah satu bentuk ujian dan sarana yang dapat digunakan untuk kebaikan.

Bagaimana Jika Kita Selalu Merasa Kurang?

Ini merupakan persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan modern.

Media sosial membuat seseorang mudah membandingkan hidupnya dengan orang lain. Melihat teman membeli rumah, orang lain mendapatkan kendaraan baru, atau seseorang memamerkan keberhasilan bisnis dapat membuat seseorang merasa hidupnya tertinggal.

Padahal, apa yang terlihat di media sosial belum tentu menggambarkan seluruh kehidupan seseorang.

Islam mengajarkan qanaah, yaitu sikap menerima rezeki Allah dengan lapang, bukan berarti berhenti berusaha.

Qanaah tidak sama dengan malas.

Seseorang tetap bekerja keras untuk meningkatkan kehidupannya, tetapi hatinya tidak terus-menerus dikuasai oleh rasa iri dan ketidakpuasan.

Ia bisa berkata dalam dirinya: saya akan berusaha lebih baik, tetapi saya tidak akan mengukur harga diri saya hanya dari apa yang dimiliki orang lain.

Sikap seperti ini justru dapat membuat seseorang lebih sehat dalam mengejar keberhasilan.

Kaya yang Ideal: Tangan Mampu Memberi, Hati Tidak Diperbudak Harta

Jika diringkas, kekayaan dalam perspektif Islam memiliki dua sisi.

Pertama, kekayaan materi: kemampuan memiliki dan mengelola harta secara halal.

Kedua, kekayaan jiwa: kemampuan merasa cukup, bersyukur, tidak tamak, dan tidak menjadikan harta sebagai penguasa hati.

Idealnya, seorang Muslim berusaha memiliki keduanya.

Ia bekerja keras tetapi tetap menjaga salat.

Ia membangun bisnis tetapi tidak meninggalkan kejujuran.

Ia memiliki banyak uang tetapi tidak meremehkan orang miskin.

Ia menikmati rezeki tetapi tetap mengingat bahwa ada hak orang lain dalam hartanya.

Ia memiliki cita-cita menjadi kaya, tetapi tidak menjadikan kekayaan sebagai tujuan akhir kehidupan.

Jika Sudah Kaya, Apa yang Harus Dilakukan?

Ada beberapa hal penting yang dapat menjadi pegangan.

Pertama, pastikan sumber penghasilan halal.
Jangan mengorbankan prinsip agama demi keuntungan.

Kedua, tunaikan kewajiban terhadap harta.
Jika telah memenuhi syarat, keluarkan zakat sesuai ketentuannya.

Ketiga, penuhi kebutuhan keluarga dengan baik.
Menafkahi keluarga merupakan tanggung jawab, bukan sekadar bentuk kemurahan hati.

Keempat, sisihkan harta untuk kebaikan.
Sedekah dan berbagai bentuk amal dapat menjadi cara menjadikan harta lebih bermanfaat.

Kelima, jangan menjadikan kekayaan sebagai identitas diri.
Harta dapat bertambah dan berkurang. Jangan sampai harga diri ikut naik turun bersamanya.

Keenam, tetap bersyukur ketika rezeki bertambah.
Syukur bukan hanya ucapan, tetapi juga menggunakan nikmat sesuai dengan kehendak Allah.

Jadi, Seperti Apa Orang Kaya Menurut Islam?

Orang kaya menurut Islam bukan sekadar orang yang memiliki banyak uang.

Ia adalah orang yang mampu memperoleh harta dengan cara yang halal, menggunakan harta secara benar, memenuhi kewajibannya, tidak diperbudak oleh kekayaan, dan menjadikan hartanya sebagai sarana untuk mendapatkan ridha Allah.

Karena itu, seorang Muslim tidak perlu merasa bersalah hanya karena ingin hidup berkecukupan atau menjadi kaya.

Yang perlu ditanyakan bukan hanya, “Berapa banyak harta yang ingin saya miliki?”

Tetapi juga:

“Dari mana harta itu berasal?”

“Untuk apa harta itu digunakan?”

Dan yang paling penting:

“Apakah harta ini membuat saya semakin dekat kepada Allah atau justru semakin jauh?”

Pada akhirnya, ukuran kekayaan yang paling dalam bukanlah seberapa banyak yang seseorang kumpulkan, melainkan seberapa baik ia menggunakan apa yang Allah titipkan kepadanya.

Harta yang sedikit tetapi penuh keberkahan dapat menjadi nikmat. Harta yang banyak pun dapat menjadi nikmat jika diperoleh dan digunakan dengan benar.

Sebab dalam Islam, tujuan hidup bukan menjadi kaya semata, melainkan menjadi hamba Allah yang baik—baik ketika memiliki banyak maupun sedikit.

Leave a comment

Leave a Reply