Dalam kehidupan sehari-hari, seorang Muslim tidak selalu berada dalam lingkungan yang sama. Ada teman yang mengajak kepada hal-hal baik, tetapi ada pula yang mengajak nongkrong di tempat yang berpotensi menimbulkan maksiat, mengikuti pesta yang tidak sesuai syariat, minum minuman keras, berjudi, atau melakukan perbuatan lain yang dilarang agama.
Dalam kondisi seperti ini, terkadang muncul rasa tidak enak hati. Menolak ajakan teman bisa dianggap sombong, tidak setia kawan, atau terlalu merasa suci.
Lantas, bolehkah seorang Muslim menolak ajakan teman karena ingin menjaga diri dari maksiat?
Jawabannya, boleh, bahkan dalam kondisi tertentu justru harus dilakukan. Menjaga diri dari perbuatan haram merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah. Namun, cara menolaknya juga perlu diperhatikan agar tidak berubah menjadi sikap kasar, merendahkan orang lain, atau memutus silaturahmi tanpa alasan yang benar.
Menjaga Diri dari Maksiat Adalah Perintah Islam
Islam tidak hanya mengajarkan seorang Muslim untuk menjauhi maksiat setelah terlanjur melakukannya. Seorang Muslim juga diperintahkan untuk menghindari jalan yang dapat menyeretnya kepada dosa.
Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagimu.”
(QS. Al-Baqarah: 168)
Ayat tersebut mengingatkan bahwa dosa terkadang tidak dimulai dari perbuatan besar. Seseorang bisa saja awalnya hanya ikut berkumpul, kemudian terbiasa melihat kemaksiatan, lalu perlahan menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa.
Karena itu, ketika seseorang menolak ajakan yang berpotensi membawa dirinya kepada dosa, sikap tersebut tidak otomatis berarti ia memusuhi temannya. Bisa jadi justru ia sedang berusaha menjaga dirinya.
Tidak Semua Ajakan Teman Harus Diikuti
Pertemanan memang mengandung hak dan kewajiban. Islam menganjurkan seorang Muslim untuk berbuat baik kepada teman, menjaga hubungan, membantu ketika membutuhkan, dan tidak menyakiti tanpa alasan.
Namun, hal itu bukan berarti semua ajakan teman harus diterima.
Prinsip penting dalam Islam adalah tidak ada ketaatan kepada manusia dalam perkara yang merupakan kemaksiatan kepada Allah.
Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
“Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan. Ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang baik.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dengan demikian, jika teman mengajak kepada sesuatu yang jelas-jelas haram, seorang Muslim tidak wajib mengikutinya.
Bahkan, apabila mengikuti ajakan tersebut dapat membuat seseorang terjerumus ke dalam dosa, menolaknya merupakan pilihan yang lebih tepat.
Menolak Ajakan Maksiat Bukan Berarti Merasa Lebih Baik
Ada satu hal yang perlu dibedakan.
Menjauhi maksiat adalah sikap yang baik, tetapi merasa diri lebih suci daripada orang lain adalah persoalan yang berbeda.
Seseorang boleh mengatakan, “Saya tidak mau ikut karena khawatir terjerumus ke dalam dosa.”
Namun, sebaiknya ia tidak mengatakan, “Saya tidak mau berteman dengan kalian karena kalian orang-orang buruk.”
Perbedaannya terletak pada sikap hati dan cara menyampaikannya.
Islam mengajarkan agar seorang Muslim tetap rendah hati. Ketika menolak suatu perbuatan, yang ditolak adalah perbuatannya, bukan dengan merendahkan martabat orang yang melakukannya.
Bagaimana Jika Teman Mengajak ke Tempat yang Ada Kemaksiatan?
Situasinya bisa beragam.
Misalnya, seorang teman mengajak pergi ke tempat yang di dalamnya terdapat minuman keras, perjudian, atau aktivitas lain yang jelas dilarang agama.
Jika seseorang mengetahui bahwa kehadirannya akan membuatnya terlibat dalam kemaksiatan atau ikut mendukung perbuatan tersebut, maka menjauh merupakan pilihan yang lebih aman.
Allah berfirman:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”
(QS. Al-Ma’idah: 2)
Ayat ini memberikan prinsip penting dalam pergaulan: seorang Muslim hendaknya membantu dalam kebaikan, bukan dalam dosa.
Karena itu, tidak perlu merasa bersalah hanya karena mengatakan tidak terhadap ajakan yang bertentangan dengan ajaran agama.
Menolak dengan Cara yang Baik
Menolak ajakan teman tidak harus dilakukan dengan keras.
Misalnya, daripada mengatakan:
“Saya tidak mau ikut. Kalian memang tidak benar.”
lebih baik mengatakan:
“Maaf, saya tidak ikut ya. Saya sedang berusaha menghindari hal-hal yang bisa membawa saya kepada dosa. Kalau mau, kita bertemu di tempat lain saja.”
Cara seperti ini lebih menjaga perasaan dan hubungan pertemanan.
Seorang Muslim dapat tetap memiliki prinsip tanpa harus kehilangan akhlak.
Tidak Harus Memutus Pertemanan
Menolak satu ajakan tidak selalu berarti harus memutus hubungan dengan seseorang.
Jika teman tersebut masih bisa diajak melakukan aktivitas yang baik, hubungan pertemanan tetap dapat dijaga.
Misalnya, ketika menolak ajakan pergi ke tempat yang mengandung kemaksiatan, seseorang bisa menawarkan alternatif:
- makan bersama di tempat yang baik;
- berolahraga;
- berdiskusi;
- mengunjungi teman yang sakit;
- menghadiri kegiatan sosial;
- atau melakukan aktivitas lain yang tidak bertentangan dengan syariat.
Dengan demikian, yang dihindari adalah kemaksiatannya, bukan semata-mata orangnya.
Bagaimana Jika Teman Menganggap Kita Sombong?
Ini juga sering terjadi.
Ada orang yang merasa tersinggung ketika ajakannya ditolak. Bahkan, seorang Muslim mungkin diberi label “sok alim”, “tidak asyik”, atau “sudah berubah”.
Dalam situasi seperti ini, seseorang perlu tetap tenang.
Tidak semua penolakan akan dipahami orang lain. Selama alasan kita benar dan cara menyampaikannya baik, kita tidak perlu mengikuti tekanan teman hanya demi mendapatkan pengakuan.
Allah mengingatkan:
“Dan jika engkau mengikuti kebanyakan orang di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”
(QS. Al-An’am: 116)
Ayat ini bukan berarti mayoritas manusia selalu salah. Pesannya adalah bahwa kebenaran tidak ditentukan semata-mata oleh banyaknya orang yang mengikuti suatu perbuatan.
Seorang Muslim tetap perlu berpegang pada prinsip agama meskipun pilihannya tidak selalu populer.
Memilih Lingkungan Pertemanan Juga Penting
Teman memiliki pengaruh yang besar terhadap kebiasaan seseorang.
Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
“Seseorang berada di atas agama teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang dia jadikan teman dekat.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan pentingnya memperhatikan lingkungan pergaulan.
Jika seseorang terus-menerus berada dalam lingkungan yang menganggap dosa sebagai sesuatu yang biasa, ia perlu berhati-hati. Kebiasaan yang awalnya terasa asing dapat menjadi sesuatu yang dianggap normal apabila terus dilakukan.
Sebaliknya, lingkungan yang baik dapat membantu seseorang mempertahankan ketaatan.
Karena itu, memilih teman bukan berarti mencari manusia yang sempurna. Yang penting adalah memilih lingkungan yang membantu kita menjadi lebih baik, bukan semakin jauh dari Allah.
Bagaimana Jika Kita Takut Dijauhi Teman?
Kekhawatiran seperti ini sangat manusiawi.
Seseorang mungkin takut kehilangan teman jika terlalu sering mengatakan tidak. Namun, menjaga prinsip agama tidak seharusnya dikorbankan hanya karena takut kehilangan penerimaan sosial.
Pada saat yang sama, jangan pula terburu-buru memutus semua hubungan hanya karena berbeda dalam beberapa hal.
Tetaplah berbuat baik, tetapi tentukan batas.
Bersikap ramah tidak berarti harus mengikuti semua perilaku teman.
Seorang Muslim dapat tetap menghormati seseorang tanpa mengikuti perbuatannya yang salah.
Jika Ajakan Itu Tidak Jelas Hukumnya
Tidak semua ajakan teman dapat langsung dikategorikan sebagai maksiat.
Ada perkara yang hukumnya jelas haram, ada yang jelas halal, dan ada pula persoalan yang masih memiliki perbedaan pendapat di antara ulama.
Dalam perkara yang tidak jelas, sebaiknya seseorang tidak tergesa-gesa memberikan vonis halal atau haram.
Jika persoalannya berkaitan dengan hukum yang rumit, tanyakan kepada ustaz atau ulama yang memiliki kapasitas dalam bidang tersebut.
Sikap hati-hati dalam beragama bukan berarti harus mencurigai semua hal, tetapi juga bukan berarti menganggap semua kebiasaan sebagai sesuatu yang boleh.
Kapan Menolak Ajakan Justru Menjadi Sikap yang Tepat?
Secara sederhana, penolakan semakin kuat alasannya ketika:
- Ajakan tersebut mengandung perbuatan yang jelas haram.
- Ada risiko kuat bahwa kita akan ikut melakukan maksiat.
- Kehadiran kita dapat dianggap sebagai dukungan terhadap perbuatan yang salah.
- Kita kesulitan menjaga diri jika berada dalam lingkungan tersebut.
- Ajakan tersebut berpotensi menyeret kita kepada dosa lain.
Dalam kondisi seperti ini, mengatakan “tidak” bukan tanda kelemahan dalam pertemanan.
Justru terkadang diperlukan keberanian untuk mempertahankan prinsip.
Jangan Sampai Menjaga Diri dari Maksiat Membuat Kita Berbuat Maksiat Lain
Ada satu hal yang juga perlu diperhatikan.
Ketika menolak ajakan yang buruk, jangan sampai seseorang membalas dengan menghina, mencaci, menyebarkan aib, atau merasa dirinya paling suci.
Menjauhi satu dosa tidak boleh menjadi alasan untuk melakukan dosa lainnya.
Jika seorang teman mengajak kepada keburukan, kita dapat menolaknya dengan tenang. Bila memungkinkan, nasihati dengan cara yang baik. Jika tidak memungkinkan, cukup menjaga jarak tanpa perlu mempermalukannya.
Islam mengajarkan keteguhan dalam prinsip sekaligus kelembutan dalam akhlak.
Kesimpulan
Bolehkah menolak ajakan teman karena ingin menjaga diri dari maksiat?
Ya, boleh. Bahkan jika ajakan tersebut jelas mengandung kemaksiatan dan berisiko membuat seseorang ikut berdosa, menjauhinya merupakan sikap yang sejalan dengan prinsip Islam.
Namun, menolak ajakan maksiat tidak berarti seseorang boleh menjadi sombong, menghina teman, atau merasa dirinya lebih suci.
Cara yang lebih baik adalah menolak perbuatannya dengan tegas, tetapi tetap memperlakukan orangnya dengan akhlak yang baik.
Jika masih memungkinkan, tawarkan aktivitas lain yang halal dan bermanfaat. Jika lingkungan tersebut terus-menerus menyeret kepada dosa, menjaga jarak dapat menjadi langkah bijak untuk melindungi diri.
Pada akhirnya, seorang Muslim tidak perlu memilih antara memiliki prinsip dan berakhlak baik. Keduanya justru harus berjalan bersama.
Menjaga diri dari maksiat adalah bentuk ketaatan kepada Allah, sedangkan menolak dengan cara yang santun adalah bagian dari akhlak seorang Muslim.
