Setiap orang dapat membagikan pengetahuan melalui percakapan, kegiatan komunitas, maupun media digital. Namun, informasi yang disampaikan kepada publik membawa tanggung jawab. Dalam urusan agama, kekeliruan yang tersebar luas dapat menimbulkan salah paham dan memengaruhi perilaku banyak orang.
Pastikan sumber dan kemampuan
Sebelum menyampaikan informasi, periksa asalnya, konteks, dan kesesuaiannya dengan sumber yang dapat dipercaya. Bedakan antara pengetahuan yang telah dipelajari, pendapat pribadi, dan fatwa yang menjadi kewenangan ulama atau lembaga terkait. Jika belum memahami persoalan, lebih baik bertanya daripada menyimpulkan secara tergesa-gesa.
Ketika mengutip ayat, hadis, atau pendapat ulama, pastikan redaksi dan konteksnya tidak diubah. Hindari menyebarkan judul sensasional yang membuat pesan menjadi berbeda dari isi sumber.
Utamakan manfaat dan adab
Ilmu seharusnya disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan tidak merendahkan orang lain. Pertimbangkan kebutuhan pembaca, hindari membuka aib, serta jangan menjadikan pengetahuan sebagai alat untuk mencari pujian atau menyerang kelompok berbeda.
Jika menemukan kekeliruan dalam informasi yang pernah dibagikan, lakukan koreksi secara terbuka. Sikap mau memperbaiki diri menunjukkan tanggung jawab dan menjaga kepercayaan publik.
Menyebarkan ilmu yang bermanfaat merupakan kesempatan berbuat baik, tetapi harus disertai amanah. Kejujuran, verifikasi, dan adab menjadikan informasi lebih layak dipercaya serta membantu masyarakat belajar dengan tenang.
