Pinjaman terkadang dibutuhkan untuk keadaan mendesak atau kebutuhan produktif. Namun, ketika berutang menjadi kebiasaan untuk memenuhi keinginan konsumtif, risiko keuangan keluarga dapat meningkat. Islam mengingatkan pentingnya tanggung jawab terhadap hak orang lain.
Ukur kemampuan sebelum meminjam
Sebelum mengambil pinjaman, hitung kemampuan membayar setelah kebutuhan pokok terpenuhi. Pahami total kewajiban, biaya, jadwal pembayaran, konsekuensi keterlambatan, dan ketentuan akad. Jangan hanya melihat besarnya cicilan awal atau kemudahan persetujuan.
Hindari meminjam untuk menutup pinjaman lain tanpa rencana yang jelas. Pola tersebut dapat membuat beban semakin besar. Jika tujuan pinjaman tidak mendesak, pertimbangkan menabung atau menunda pembelian.
Jujur dan bertanggung jawab
Orang yang berutang perlu menyampaikan informasi secara benar dan tidak membuat janji pembayaran yang tidak masuk akal. Jika terjadi kesulitan, hubungi pemberi pinjaman lebih awal untuk membicarakan solusi yang sesuai hukum dan kesepakatan.
Pemberi pinjaman juga dituntut menjaga keadilan. Penagihan tidak boleh dilakukan dengan ancaman, penghinaan, atau penyebaran data pribadi secara melanggar hukum. Hak kedua pihak harus dihormati.
Utang bukan sesuatu yang otomatis tercela, tetapi harus dikelola dengan kehati-hatian. Menjaga kebutuhan sesuai kemampuan, memahami akad, dan membayar tepat waktu merupakan langkah untuk melindungi diri serta orang lain.
