Kita Sibuk Mengejar Dunia, Tapi Sebenarnya Kita Sedang Menuju ke Mana?

Setiap pagi kita bangun dan kembali berlari. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, target yang harus dicapai, tagihan yang harus dibayar, keluarga yang harus diperhatikan, dan berbagai keinginan yang ingin diwujudkan. Hari demi hari berlalu dengan kesibukan yang hampir tidak memberi kita kesempatan untuk berhenti. Kita bekerja untuk mendapatkan lebih banyak, berusaha memiliki kehidupan yang lebih nyaman, dan berharap suatu hari nanti semua yang kita perjuangkan akan membawa kebahagiaan.

Tidak ada yang salah dengan bekerja keras dan memiliki cita-cita. Islam tidak mengajarkan kita untuk meninggalkan dunia. Kita diperintahkan mencari rezeki yang halal, menjaga keluarga, membangun kehidupan yang baik, dan memanfaatkan nikmat Allah dengan sebaik-baiknya. Namun ada satu pertanyaan yang mungkin jarang kita ajukan kepada diri sendiri: di tengah semua yang sedang kita kejar, sebenarnya kita sedang menuju ke mana?

Pertanyaan ini penting, sebab seseorang bisa sangat sibuk berjalan tetapi tidak pernah memeriksa arah. Kita bisa bekerja bertahun-tahun, mengumpulkan banyak hal, mencapai berbagai pencapaian, tetapi tanpa sadar semakin jauh dari tujuan hidup yang sebenarnya. Kita mungkin tahu apa yang ingin kita miliki, tetapi lupa bertanya apa yang ingin kita bawa ketika semua yang kita miliki itu akhirnya kita tinggalkan.

Dunia Adalah Persinggahan, Bukan Tujuan Akhir

Allah mengingatkan kita tentang hakikat kehidupan dunia:

โ€œKetahuilah, bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan…โ€

(QS. Al-Hadid [57]: 20)

Ayat ini bukan berarti dunia harus dibenci. Dunia tetap memiliki tempat dalam kehidupan seorang Muslim. Kita membutuhkan harta untuk hidup, bekerja untuk menafkahi keluarga, dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan. Yang perlu kita waspadai adalah ketika dunia tidak lagi menjadi sarana, tetapi berubah menjadi tujuan utama.

Seseorang bisa memiliki banyak harta tetapi tetap sederhana hatinya. Sebaliknya, seseorang bisa memiliki sedikit harta tetapi seluruh pikirannya dikuasai oleh keinginan untuk memiliki lebih banyak. Karena itu, persoalannya bukan semata-mata berapa banyak yang kita punya, tetapi seberapa besar dunia menguasai hati kita.

Rasulullah ๏ทบ memberikan gambaran yang sangat kuat tentang posisi seorang mukmin di dunia. Abdullah bin Umar radhiyallahu โ€˜anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah ๏ทบ bersabda:

โ€œJadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau seorang musafir.โ€

(HR. Sahih al-Bukhari no. 6416)

Seorang musafir tetap membutuhkan tempat untuk beristirahat, makanan untuk menguatkan tubuh, dan bekal untuk melanjutkan perjalanan. Ia boleh menikmati perjalanan, tetapi ia tidak lupa bahwa dirinya sedang menuju suatu tujuan. Begitu pula seorang Muslim. Kita boleh menikmati dunia, memiliki harta, membangun karier, dan mengejar kehidupan yang baik. Tetapi jangan sampai kita lupa bahwa semua itu hanyalah bagian dari perjalanan menuju kehidupan yang lebih kekal.

Ketika โ€œLebih Banyakโ€ Menjadi Ukuran Kebahagiaan

Salah satu penyakit kehidupan modern adalah perasaan bahwa kita akan bahagia jika memiliki lebih banyak. Lebih banyak uang, lebih besar rumah, lebih tinggi jabatan, lebih banyak pengikut, lebih bagus kendaraan, lebih sering dipuji, atau lebih unggul daripada orang lain. Kita tidak selalu mengejar sesuatu karena membutuhkannya. Kadang kita mengejarnya karena takut merasa tertinggal.

Al-Qurโ€™an mengingatkan:

โ€œBermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.โ€

(QS. At-Takatsur [102]: 1โ€“2)

Ayat ini terasa begitu dekat dengan kehidupan kita. Bermegah-megahan tidak selalu berbentuk persaingan harta secara terang-terangan. Ia bisa muncul ketika kita terus membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. Kita melihat pencapaian seseorang dan merasa hidup kita kurang. Kita melihat rumah orang lain dan merasa rumah kita terlalu sederhana. Kita melihat perjalanan orang lain dan merasa kehidupan kita tidak menarik.

Media sosial membuat perasaan itu semakin mudah muncul. Kita melihat hasil akhir kehidupan seseorang tanpa mengetahui seluruh perjuangannya. Kita melihat keberhasilannya tanpa melihat kegagalannya. Kita melihat kebahagiaannya tanpa mengetahui apa yang terjadi ketika kamera dimatikan. Akhirnya kita membandingkan kehidupan nyata kita dengan potongan kehidupan orang lain yang terlihat sempurna.

Jika tidak berhati-hati, kita akan menghabiskan hidup untuk mengejar sesuatu hanya agar tidak merasa kalah.

Padahal semua perlombaan itu akan berhenti di satu tempat. Allah berfirman:

โ€œKemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan.โ€

(QS. At-Takatsur [102]: 8)

Maka pertanyaan kehidupan bukan hanya tentang apa yang berhasil kita dapatkan. Kita juga akan berhadapan dengan pertanyaan tentang bagaimana kita menggunakan apa yang Allah titipkan kepada kita. Dari mana harta itu diperoleh? Untuk apa digunakan? Apakah pekerjaan membuat kita semakin bersyukur atau justru semakin lalai? Apakah keberhasilan membuat kita semakin rendah hati atau justru merasa lebih tinggi daripada orang lain?

Jangan Sampai Hidup Hanya Dipenuhi Kata โ€œNantiโ€

Ada satu kata yang sering membuat kita menunda perubahan: nanti.

Nanti kalau sudah kaya, saya akan lebih banyak bersedekah. Nanti kalau pekerjaan sudah tidak terlalu sibuk, saya akan lebih rajin membaca Al-Qurโ€™an. Nanti kalau masalah selesai, saya akan lebih dekat kepada Allah. Nanti kalau sudah tua, saya akan memperbanyak ibadah.

Masalahnya, kita tidak pernah benar-benar tahu apakah โ€œnantiโ€ itu akan datang.

Kita sering membuat rencana untuk masa depan seolah-olah umur adalah sesuatu yang pasti berada dalam genggaman kita. Padahal yang kita miliki sebenarnya hanya hari ini. Kemarin sudah berlalu, sedangkan besok belum tentu menjadi milik kita.

Karena itu, mendekat kepada Allah tidak perlu menunggu kehidupan menjadi sempurna. Kita bisa memulainya di tengah pekerjaan, di tengah kesibukan, bahkan di tengah persoalan yang belum selesai. Shalat yang lebih khusyuk, beberapa ayat Al-Qurโ€™an yang dibaca dengan kesadaran, istighfar ketika melakukan kesalahan, sedekah meski sedikit, atau sekadar berdoa dengan hati yang jujur dapat menjadi langkah kecil untuk mengubah arah perjalanan.

Kita tidak harus meninggalkan dunia untuk mendekat kepada Allah. Kita hanya perlu memastikan bahwa dunia berada di tangan kita, bukan di hati kita.

Lalu, Apa yang Harus Kita Perbaiki?

Mungkin kita tidak perlu mengubah seluruh kehidupan dalam satu hari. Cukup mulai dengan memeriksa kembali niat. Ketika bekerja, niatkan mencari rezeki halal dan menunaikan tanggung jawab. Ketika memperoleh harta, ingat bahwa itu adalah amanah. Ketika mendapatkan keberhasilan, jangan lupa bahwa ada pertolongan Allah di balik kemampuan yang kita miliki.

Kita juga perlu belajar membedakan kebutuhan dan keinginan. Tidak semua yang kita inginkan harus dimiliki. Tidak semua yang dimiliki orang lain harus kita kejar. Sebelum membeli sesuatu atau mengejar sebuah pencapaian, sesekali tanyakan kepada diri sendiri: โ€œApakah saya benar-benar membutuhkan ini, atau saya hanya ingin terlihat berhasil di mata manusia?โ€

Pertanyaan sederhana seperti itu dapat menyelamatkan kita dari perlombaan yang tidak pernah selesai.

Dan yang paling penting, jangan menunda hubungan dengan Allah. Jangan menunggu tua untuk bertobat, jangan menunggu kaya untuk bersedekah, jangan menunggu kehilangan untuk bersyukur, dan jangan menunggu kematian semakin dekat untuk mengingat akhirat. Kita tidak pernah tahu kapan perjalanan dunia ini akan berakhir.

Muhasabah Hari Pertama

Hari pertama dari perjalanan ini mungkin tidak membutuhkan perubahan yang besar. Yang kita perlukan adalah kejujuran. Cobalah bertanya kepada diri sendiri: Apa yang paling banyak memenuhi pikiran saya akhir-akhir ini? Apakah Allah, keluarga, kebaikan, dan akhirat, atau justru uang, pekerjaan, penampilan, pengakuan manusia, dan keinginan untuk memiliki lebih banyak?

Kemudian tanyakan lagi: Jika hidup saya berakhir lebih cepat dari yang saya bayangkan, apakah saya akan merasa telah menggunakan waktu dengan baik? Apakah ada ibadah yang terus saya tunda? Ada orang tua yang belum saya bahagiakan? Ada orang yang belum saya maafkan? Ada dosa yang terus saya ulangi? Ada hubungan dengan Allah yang perlahan saya abaikan?

Tidak perlu takut dengan jawaban yang muncul. Muhasabah bukan untuk membuat kita merasa tidak layak menjadi orang baik. Muhasabah adalah kesempatan untuk menyadari bahwa kita masih memiliki waktu untuk memperbaiki arah.

Kita Semua Sedang Menuju Pulang

Pada akhirnya, setiap manusia sedang berjalan menuju satu tempat yang sama. Yang membedakan bukan apakah kita akan sampai, tetapi apa yang kita persiapkan sebelum sampai.

Allah berfirman:

โ€œBerlomba-lombalah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi…โ€

(QS. Al-Hadid [57]: 21)

Setelah mengingatkan kita tentang kehidupan dunia yang dapat melalaikan, Allah menunjukkan arah yang seharusnya kita tuju: ampunan-Nya dan surga-Nya.

Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mengejar dunia sampai lupa bertanya ke mana hidup ini membawa kita. Mungkin kita terlalu sibuk memperbaiki kehidupan di luar diri, tetapi lupa memperbaiki hati di dalam diri. Namun selama napas masih ada, perjalanan pulang belum terlambat.

Hari ini kita tidak harus menjadi manusia yang sempurna. Kita hanya perlu berhenti sejenak, melihat kembali arah langkah kita, kemudian memperbaikinya sedikit demi sedikit.

Sebab pada akhirnya, yang paling penting bukanlah seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan dalam perjalanan ini. Bukan pula seberapa tinggi manusia menilai keberhasilan kita.

Yang paling penting adalah ketika perjalanan ini selesai, kita sedang menuju kepada siapa.

Semoga hari pertama ini menjadi awal dari sebuah perjalanan yang sederhana tetapi berarti: dari hati yang terlalu sibuk dengan dunia, menuju hati yang kembali mengingat Allah.

Kita sedang berjalan. Kita sedang menuju pulang. Maka sebelum terlambat, mari pastikan arah langkah kita benar.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Search

About

Lorem Ipsum has been the industrys standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown prmontserrat took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book.

Lorem Ipsum has been the industrys standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown prmontserrat took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book. It has survived not only five centuries, but also the leap into electronic typesetting, remaining essentially unchanged.

Archive

Categories

Gallery