Harta merupakan bagian yang hampir tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Kita bekerja untuk mendapatkan penghasilan, membeli kebutuhan, menabung untuk masa depan, membantu keluarga, hingga menyisihkan sebagian rezeki untuk orang lain.
Karena itu, Islam tidak memandang persoalan harta sebagai sesuatu yang berada di luar agama.
Islam memang mengajarkan shalat, puasa, zakat, dan berbagai bentuk ibadah. Namun, ajaran Islam juga memberikan panduan mengenai bagaimana seorang Muslim memperoleh harta, menggunakannya, serta memperlakukannya dengan penuh tanggung jawab.
Persoalannya bukan sekadar berapa banyak harta yang dimiliki, tetapi juga dari mana harta itu diperoleh dan untuk apa digunakan.
Harta dalam Islam Bukan Tujuan Akhir
Salah satu hal penting yang perlu dipahami adalah bahwa Islam tidak mengharamkan seseorang menjadi kaya.
Al-Qur’an bahkan mengingatkan manusia untuk tidak melupakan bagian duniawinya. Dalam QS Al-Qashash ayat 77, Allah berfirman agar manusia mencari negeri akhirat melalui apa yang telah diberikan kepadanya, tanpa melupakan bagiannya di dunia.
Pesannya cukup jelas: kehidupan dunia memiliki tempat, tetapi tidak boleh membuat manusia melupakan tujuan akhirnya.
Dengan cara pandang ini, harta dapat menjadi sarana kebaikan. Penghasilan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, membantu orang tua, bersedekah, membangun usaha, atau memberikan manfaat kepada masyarakat.
Sebaliknya, harta juga dapat menjadi sumber masalah ketika membuat seseorang terjerumus pada keserakahan, penipuan, pemborosan, atau mengambil hak orang lain.
Mengapa Cara Mendapatkan Harta Diatur?
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mungkin berpikir bahwa selama memiliki uang, persoalannya selesai.
Islam melihatnya secara berbeda.
Cara memperoleh harta juga memiliki konsekuensi moral dan agama. Karena itu, seorang Muslim diperintahkan mencari rezeki melalui cara yang halal dan menjauhi transaksi yang mengandung unsur yang dilarang.
Allah berfirman dalam QS An-Nisa ayat 29 agar orang-orang beriman tidak memakan harta sesama mereka dengan cara yang batil, kecuali melalui perdagangan yang dilakukan atas dasar saling ridha.
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam memberikan perhatian pada kejujuran, kerelaan, dan keadilan dalam transaksi.
Artinya, mendapatkan keuntungan dari perdagangan pada dasarnya diperbolehkan. Yang menjadi persoalan adalah ketika keuntungan tersebut diperoleh melalui penipuan, kecurangan, pemaksaan, atau mengambil hak orang lain.
Tidak Semua yang Bisa Dibeli Berarti Baik untuk Dibeli
Islam juga memberikan perhatian pada cara menggunakan harta.
Seseorang mungkin memiliki penghasilan halal, tetapi penggunaannya tetap perlu dipertimbangkan.
Allah mengingatkan dalam QS Al-Isra ayat 26–27 agar manusia memberikan hak kepada kerabat, orang miskin, dan orang yang membutuhkan, sekaligus tidak berlebih-lebihan. Dalam ayat tersebut, pemborosan mendapatkan peringatan yang sangat tegas.
Di sinilah konsep keseimbangan menjadi penting.
Islam tidak mengajarkan manusia untuk menolak kenikmatan dunia secara mutlak. Namun, seseorang juga tidak dianjurkan menghamburkan harta hanya demi mengikuti keinginan.
Membeli kebutuhan tentu berbeda dengan membeli sesuatu semata-mata karena dorongan gengsi.
Zakat Menunjukkan Bahwa Harta Memiliki Dimensi Sosial
Salah satu bukti paling jelas bahwa Islam memandang harta sebagai bagian dari tanggung jawab sosial adalah kewajiban zakat.
Zakat bukan sekadar aktivitas memberikan sebagian harta. Di dalamnya terdapat kepedulian terhadap kelompok yang membutuhkan sekaligus bentuk ketaatan kepada Allah.
Dalam QS At-Taubah ayat 103, Allah memerintahkan Nabi untuk mengambil zakat dari harta mereka sebagai sarana untuk membersihkan dan menyucikan mereka.
Karena itu, dalam Islam, kepemilikan harta tidak hanya berbicara tentang hak pribadi.
Ada tanggung jawab yang menyertainya.
Seseorang yang memiliki kemampuan secara ekonomi juga perlu memperhatikan apakah di dalam hartanya terdapat kewajiban yang harus ditunaikan kepada pihak lain.
Islam Mengajarkan Harta Dikelola, Bukan Dipertuhankan
Harta pada dasarnya adalah amanah.
Manusia memang memiliki hak untuk memiliki dan menikmati harta, tetapi kepemilikan tersebut tidak berarti kebebasan tanpa batas.
Al-Qur’an dalam QS Al-Hadid ayat 7 mengingatkan orang-orang beriman agar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta menginfakkan sebagian dari apa yang Allah jadikan mereka sebagai pihak yang mengelolanya.
Cara pandang ini mengubah pertanyaan dari:
“Ini uang saya, terserah saya menggunakannya untuk apa.”
menjadi:
“Bagaimana saya menggunakan harta ini dengan cara yang diridhai Allah?”
Perubahan cara berpikir tersebut penting karena membuat aktivitas ekonomi sehari-hari memiliki dimensi ibadah.
Bagaimana dengan Menabung dan Merencanakan Masa Depan?
Menabung pada dasarnya tidak bertentangan dengan Islam.
Seorang Muslim boleh mempersiapkan kebutuhan masa depan, selama cara menyimpan dan mengembangkan hartanya tidak melibatkan hal-hal yang dilarang syariat.
Islam bahkan mengajarkan sikap tidak berlebihan dan mempertimbangkan masa depan.
Yang perlu dihindari adalah menjadikan kekhawatiran terhadap masa depan sebagai alasan untuk menimbun harta tanpa batas atau melupakan kewajiban kepada Allah dan sesama.
Dengan demikian, menabung dapat menjadi bentuk perencanaan yang sehat apabila dilakukan secara proporsional.
Bagaimana Seorang Muslim Mengelola Harta dalam Kehidupan Sehari-hari?
Prinsipnya dapat dimulai dari hal-hal sederhana.
Pertama, pastikan sumber penghasilan halal. Pekerjaan, usaha, dan transaksi perlu dijalankan dengan kejujuran.
Kedua, bedakan kebutuhan dan keinginan. Tidak semua yang mampu dibeli harus dibeli.
Ketiga, penuhi kewajiban yang berkaitan dengan harta, termasuk zakat ketika telah memenuhi syarat.
Keempat, hindari mengambil hak orang lain. Utang, transaksi, gaji pekerja, dan kewajiban finansial perlu diselesaikan dengan penuh tanggung jawab.
Kelima, sisihkan sebagian harta untuk kebaikan. Sedekah dan membantu orang lain bukan hanya bentuk kepedulian sosial, tetapi juga bagian dari pendidikan jiwa agar seseorang tidak diperbudak oleh hartanya.
Harta Seharusnya Membantu Manusia Mendekat kepada Allah
Pada akhirnya, Islam tidak memisahkan kehidupan spiritual dengan kehidupan ekonomi secara kaku.
Cara seseorang mencari nafkah, membayar utang, berbelanja, menabung, menjalankan bisnis, hingga membantu orang lain dapat menjadi bagian dari tanggung jawab keagamaannya.
Inilah alasan mengapa Islam tidak hanya mengatur ibadah dalam arti ritual.
Islam juga membimbing manusia dalam menggunakan berbagai nikmat yang diberikan Allah, termasuk harta.
Bukan karena harta itu selalu buruk, melainkan karena cara manusia memperlakukan harta dapat menunjukkan bagaimana ia memahami amanah, tanggung jawab, dan kehidupan itu sendiri.
Harta yang diperoleh dengan cara halal dan digunakan secara benar dapat menjadi sarana kebaikan. Sebaliknya, harta yang membuat seseorang melupakan kewajiban, mengambil hak orang lain, atau terjebak dalam keserakahan justru dapat menjadi ujian yang berat.
Karena itu, pertanyaan penting bagi seorang Muslim bukan hanya “berapa banyak harta yang saya punya?”, tetapi juga “dari mana harta ini berasal, untuk apa digunakan, dan apakah pengelolaannya sudah sesuai dengan nilai yang diajarkan Islam?”
Itulah salah satu alasan mengapa pembahasan tentang harta memiliki tempat penting dalam ajaran Islam: karena agama tidak hanya mengajarkan manusia bagaimana beribadah kepada Allah, tetapi juga bagaimana menjalani kehidupan dengan penuh amanah.
Leave a comment