Pernah merasa penghasilan sudah diterima, tetapi tetap saja terasa kurang? Tagihan bertambah, kebutuhan keluarga meningkat, sementara rezeki yang diperoleh seolah tidak pernah cukup. Dalam kondisi seperti ini, keluhan tentang rezeki bisa muncul hampir setiap hari.
Mengeluh ketika menghadapi kesulitan merupakan hal yang manusiawi. Islam tidak mengajarkan seseorang untuk berpura-pura tidak memiliki masalah. Namun, ada perbedaan antara mengungkapkan kesulitan untuk mencari solusi dan terus-menerus mengeluhkan rezeki hingga menunjukkan ketidakpuasan terhadap ketetapan Allah.
Lalu, apakah sering mengeluh tentang rezeki dapat mengurangi keberkahan?
Apa yang Dimaksud dengan Keberkahan Rezeki?
Keberkahan tidak selalu berarti jumlah harta yang banyak. Dalam pandangan Islam, keberkahan berkaitan dengan kebaikan yang Allah berikan pada sesuatu sehingga manfaatnya menjadi lebih luas dan membawa ketenangan.
Seseorang mungkin memiliki penghasilan yang sederhana, tetapi kebutuhan pokoknya tercukupi, keluarganya hidup tenang, hartanya digunakan untuk kebaikan, dan ia merasa cukup. Sebaliknya, seseorang bisa memiliki penghasilan besar tetapi terus merasa kurang, hidup dalam kecemasan, atau menggunakan hartanya untuk hal-hal yang tidak baik.
Karena itu, membicarakan rezeki tidak cukup hanya dengan melihat nominal.
Allah berfirman:
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu…”
(QS. Ibrahim: 7)
Ayat ini menjadi salah satu dasar penting dalam pembahasan tentang syukur. Syukur bukan berarti seseorang dilarang berusaha meningkatkan kehidupannya. Syukur berarti menyadari bahwa nikmat yang dimiliki berasal dari Allah dan menggunakannya dengan cara yang benar.
Apakah Mengeluh Bisa Menghilangkan Keberkahan?
Tidak tepat jika langsung mengatakan bahwa setiap keluhan otomatis membuat rezeki kehilangan keberkahan. Islam perlu dipahami dengan lebih hati-hati.
Keluhan dapat memiliki bentuk yang berbeda.
Jika seseorang mengatakan, “Pendapatan saya sedang berkurang. Saya perlu mencari pekerjaan tambahan,” maka itu bukan berarti ia kufur terhadap nikmat. Ia sedang mengakui keadaan dan mencari jalan keluar.
Namun, jika keluhan berubah menjadi sikap terus-menerus mencela keadaan, meremehkan nikmat yang sudah dimiliki, atau menunjukkan seolah-olah Allah tidak adil dalam memberikan rezeki, persoalannya menjadi berbeda.
Dalam kondisi seperti itu, yang perlu diperbaiki bukan hanya ucapan, tetapi juga cara memandang rezeki.
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kekayaan yang sebenarnya berkaitan dengan kecukupan jiwa, bukan semata-mata banyaknya harta. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi ﷺ menjelaskan bahwa kekayaan bukanlah banyaknya barang, melainkan kekayaan jiwa.
Pesan ini sangat relevan dengan kehidupan modern. Penghasilan dapat meningkat, tetapi jika standar keinginan juga terus meningkat, seseorang tetap bisa merasa kekurangan.
Mengapa Terlalu Sering Mengeluh Bisa Menjadi Masalah?
Keluhan yang terus-menerus dapat memengaruhi cara seseorang melihat nikmat.
Misalnya, seseorang memperoleh penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun karena sering membandingkan kehidupannya dengan orang lain di media sosial, ia mulai merasa hidupnya tertinggal.
Dari sinilah muncul pola:
melihat kehidupan orang lain → merasa kurang → mengeluh → lupa pada nikmat yang dimiliki.
Jika berlangsung terus, seseorang bisa menjadi sulit bersyukur.
Padahal Allah mengingatkan:
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.”
(QS. Saba: 13)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa syukur merupakan sikap yang harus dilatih.
Mengeluh juga dapat membuat seseorang hanya berfokus pada apa yang belum dimiliki, sementara nikmat yang sudah ada tidak lagi diperhatikan.
Islam Tidak Melarang Mengeluhkan Kesulitan
Penting untuk tidak memahami ajaran tentang syukur secara berlebihan.
Seorang Muslim tetap boleh mengatakan bahwa dirinya sedang kesulitan. Nabi Ya’qub عليه السلام pernah mengungkapkan kesedihan yang sangat mendalam ketika kehilangan Yusuf.
Allah mengabadikan perkataannya:
“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku…”
(QS. Yusuf: 86)
Ini menunjukkan bahwa mengadukan keadaan kepada Allah berbeda dengan mengeluhkan Allah.
Seseorang boleh berkata kepada Allah bahwa ia sedang kesulitan, membutuhkan pertolongan, atau sedang menghadapi persoalan ekonomi. Bahkan doa dan pengaduan kepada Allah merupakan bagian dari ibadah.
Yang perlu dihindari adalah menjadikan keluhan sebagai alasan untuk berburuk sangka kepada Allah atau menolak nikmat yang telah diberikan.
Bedakan Mengeluh dengan Mengadukan Keadaan
Perbedaan ini penting dalam kehidupan sehari-hari.
Mengeluh secara negatif biasanya berisi sikap tidak puas tanpa usaha memperbaiki keadaan. Misalnya, seseorang terus mengatakan bahwa hidupnya paling susah, rezekinya selalu kurang, dan tidak pernah melihat nikmat yang dimilikinya.
Sementara itu, mengadukan keadaan berarti menyampaikan kesulitan sekaligus mencari jalan keluar.
Contohnya:
“Penghasilan bulan ini turun. Saya perlu mengurangi pengeluaran dan mencari pekerjaan tambahan. Semoga Allah memberi kemudahan.”
Kalimat seperti ini menunjukkan pengakuan terhadap masalah, bukan penolakan terhadap ketetapan Allah.
Rezeki Tidak Hanya Berupa Uang
Salah satu penyebab seseorang mudah merasa kekurangan adalah karena rezeki hanya diukur dari uang.
Padahal kesehatan, waktu, keluarga, ilmu, keamanan, kesempatan bekerja, kemampuan beribadah, serta hubungan baik dengan orang lain juga merupakan nikmat.
Allah berfirman:
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”
(QS. Ibrahim: 34)
Ketika seseorang mulai menyadari banyaknya nikmat tersebut, perspektif terhadap rezeki dapat berubah.
Bukan berarti masalah finansial menjadi tidak penting. Kebutuhan ekonomi tetap harus diperhatikan. Namun, persoalan ekonomi tidak seharusnya membuat seseorang buta terhadap seluruh nikmat lain yang masih dimiliki.
Apakah Bersyukur Berarti Tidak Boleh Ingin Lebih Kaya?
Tidak.
Islam tidak mengajarkan kemiskinan sebagai tujuan hidup. Seorang Muslim boleh bekerja keras, membangun usaha, meningkatkan penghasilan, membeli rumah, menabung, dan merencanakan masa depan.
Yang menjadi persoalan adalah ketika keinginan terhadap harta membuat seseorang lupa kepada Allah atau tidak pernah merasa cukup.
Allah berfirman:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari dunia…”
(QS. Al-Qashash: 77)
Artinya, mengejar kehidupan dunia dan memperbaiki kondisi ekonomi bukan sesuatu yang bertentangan dengan agama selama dilakukan dengan cara yang halal dan tidak melupakan tujuan akhirat.
Bagaimana Cara Mengurangi Kebiasaan Mengeluh tentang Rezeki?
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan.
1. Perhatikan ucapan
Cobalah mengenali seberapa sering kita mengatakan “kurang”, “tidak cukup”, atau “kenapa hidup saya begini”.
Bukan berarti semua ucapan tersebut haram. Namun, kebiasaan berbicara negatif tentang kehidupan dapat memengaruhi cara berpikir.
2. Catat nikmat yang masih dimiliki
Sesekali berhenti dan pikirkan hal-hal yang selama ini sering dianggap biasa: kesehatan, makanan, tempat tinggal, keluarga, pekerjaan, waktu, dan kesempatan beribadah.
Kebiasaan sederhana ini dapat membantu menumbuhkan rasa syukur.
3. Tetap berusaha memperbaiki keadaan
Syukur bukan alasan untuk pasif.
Jika penghasilan tidak mencukupi, lakukan evaluasi. Kurangi pengeluaran yang tidak penting, tingkatkan keterampilan, cari peluang kerja, atau bangun usaha yang halal.
Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha.
4. Hindari terlalu sering membandingkan diri
Media sosial membuat seseorang mudah melihat pencapaian orang lain setiap hari. Padahal yang terlihat biasanya hanya sebagian kecil dari kehidupan mereka.
Membandingkan pendapatan, rumah, kendaraan, atau gaya hidup secara terus-menerus dapat membuat nikmat sendiri terasa kecil.
5. Perbanyak doa dan istighfar
Ketika menghadapi kesulitan ekonomi, jangan hanya mengandalkan keluhan kepada manusia. Sertakan doa kepada Allah.
Istighfar juga memiliki kedudukan penting dalam Al-Qur’an. Nabi Nuh عليه السلام mengajak kaumnya memohon ampun kepada Allah dan menyebutkan berbagai karunia yang dapat Allah berikan kepada mereka (QS. Nuh: 10–12).
Ayat tersebut bukan jaminan bahwa setiap orang yang beristighfar akan langsung mendapatkan kekayaan dalam bentuk tertentu. Namun, ia menunjukkan pentingnya istighfar dan kembali kepada Allah.
Bagaimana Jika Kondisi Ekonomi Memang Sangat Sulit?
Dalam keadaan ekonomi yang berat, seseorang tidak perlu memaksakan diri terlihat selalu bahagia.
Kesulitan ekonomi boleh diakui. Utang boleh dibicarakan untuk mencari solusi. Kebutuhan keluarga boleh diperhitungkan. Bahkan meminta bantuan kepada orang lain dalam keadaan membutuhkan juga bukan sesuatu yang otomatis bertentangan dengan tawakal.
Yang penting, jangan sampai kesulitan tersebut berubah menjadi keputusasaan dari rahmat Allah.
Seorang Muslim dapat mengatakan:
“Saya sedang kesulitan, tetapi saya percaya Allah mengetahui keadaan saya. Saya akan terus berusaha mencari jalan keluar.”
Sikap seperti ini jauh lebih sehat daripada menyembunyikan masalah atau terus-menerus menyalahkan keadaan.
Jadi, Apakah Sering Mengeluh tentang Rezeki Mengurangi Keberkahan?
Jawabannya perlu dibedakan.
Tidak setiap keluhan otomatis menghilangkan keberkahan rezeki. Mengungkapkan kesulitan dan mencari solusi merupakan bagian dari kehidupan manusia.
Namun, kebiasaan mengeluh yang membuat seseorang tidak bersyukur, meremehkan nikmat Allah, terus membandingkan diri, atau berburuk sangka kepada Allah merupakan sikap yang perlu diwaspadai.
Keberkahan rezeki tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa banyak seseorang memiliki harta. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana harta itu diperoleh, digunakan, dan disikapi.
Karena itu, ketika merasa rezeki sedang sempit, seorang Muslim tidak harus memilih antara bersyukur atau berusaha. Keduanya dapat dilakukan bersama.
Berusaha memperbaiki kondisi ekonomi, sambil tetap bersyukur atas nikmat yang ada dan bertawakal kepada Allah, merupakan sikap yang lebih seimbang.
Pada akhirnya, persoalan rezeki bukan hanya tentang “berapa banyak yang kita dapatkan”, tetapi juga tentang seberapa baik kita menggunakan apa yang Allah titipkan dan seberapa dekat hati kita kepada-Nya.
