Grup WhatsApp menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Di dalamnya orang bisa berbagi informasi, berdiskusi, bercanda, hingga membicarakan orang lain yang tidak sedang berada dalam percakapan.
Masalahnya, tidak semua pembicaraan tentang seseorang dibenarkan dalam Islam. Ketika seseorang membicarakan keburukan orang lain di grup WhatsApp, muncul pertanyaan: apakah hal tersebut termasuk ghibah?
Jawabannya bergantung pada isi, tujuan, dan konteks pembicaraan. Namun, jika seseorang menyebut keburukan orang lain yang memang benar adanya, sementara orang yang dibicarakan tidak menyukai hal tersebut jika mengetahuinya, maka pembicaraan itu pada dasarnya masuk dalam pengertian ghibah.
Apa Itu Ghibah?
Islam memberikan perhatian serius terhadap ucapan yang menyangkut kehormatan orang lain.
Dalam hadis yang diriwayatkan Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan ghibah sebagai menyebut sesuatu tentang saudara sesama Muslim yang tidak disukainya.
Ketika para sahabat bertanya bagaimana jika sesuatu yang dibicarakan itu memang benar, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa apabila apa yang dikatakan tersebut benar, itulah ghibah. Jika ternyata tidak benar, maka perbuatan tersebut menjadi fitnah atau tuduhan dusta.
Dengan demikian, ghibah bukan hanya berupa kebohongan.
Justru salah satu cirinya adalah membicarakan sesuatu yang benar tentang seseorang, tetapi orang tersebut tidak suka jika hal itu dibicarakan di belakangnya.
Apakah Ghibah di WhatsApp Tetap Disebut Ghibah?
Media yang digunakan tidak mengubah hakikat perbuatannya.
Ghibah bisa terjadi melalui percakapan langsung, telepon, komentar di media sosial, maupun pesan di grup WhatsApp.
Misalnya, seseorang menulis:
“Si A memang benar-benar pelit. Kalau dimintai bantuan selalu banyak alasan.”
Jika Si A memang memiliki sifat tersebut dan kemungkinan besar tidak senang jika perkataannya dibaca orang lain, maka menyebarkan pembicaraan tersebut dapat termasuk ghibah.
Begitu pula ketika seseorang menulis:
“Jangan heran dia sering terlambat, memang dari dulu orangnya malas.”
Jika pembicaraan tersebut tidak memiliki tujuan yang dibenarkan syariat dan hanya menjadi bahan obrolan, hal itu patut dihindari.
Jadi, ghibah tidak menjadi halal hanya karena dilakukan lewat tulisan atau di dalam grup WhatsApp.
Dasar Larangan Ghibah dalam Al-Qur’an
Allah SWT menggambarkan ghibah dengan perumpamaan yang sangat keras dalam Al-Qur’an.
Dalam Surah Al-Hujurat ayat 12, Allah melarang sebagian manusia menggunjing sebagian yang lain dan menggambarkannya seperti memakan daging saudaranya yang telah meninggal.
Perumpamaan tersebut menunjukkan betapa seriusnya menjaga kehormatan orang lain.
Larangan ini juga berkaitan dengan perintah untuk menjauhi prasangka buruk, mencari-cari kesalahan, dan merendahkan sesama.
Karena itu, seorang Muslim tidak seharusnya menjadikan grup WhatsApp sebagai tempat untuk membicarakan aib orang lain hanya karena merasa aman berada di balik layar.
Tidak Semua Pembicaraan Tentang Orang Lain Otomatis Ghibah
Di sisi lain, penting untuk tidak menyimpulkan bahwa setiap pembicaraan mengenai seseorang pasti merupakan ghibah.
Dalam keadaan tertentu, ulama menjelaskan adanya pembicaraan tentang orang lain yang diperbolehkan karena memiliki tujuan yang dibenarkan.
Misalnya, seseorang meminta nasihat untuk menghadapi masalah dengan orang tertentu. Ia mungkin perlu menjelaskan sebagian perilaku orang tersebut agar mendapatkan solusi yang tepat.
Demikian pula ketika seseorang melaporkan kezaliman, meminta bantuan untuk menghentikan kemungkaran, memberikan kesaksian, atau memberikan peringatan yang memang diperlukan untuk mencegah mudarat.
Yang menjadi perhatian adalah tujuan dan kebutuhan pembicaraan tersebut.
Jangan sampai alasan “memberi tahu” atau “minta pendapat” justru digunakan sebagai pembenaran untuk membuka aib orang lain.
Bagaimana Jika yang Dibicarakan Memang Benar?
Ini salah satu kesalahpahaman yang paling sering terjadi.
Ada orang yang berkata, “Tapi memang benar dia seperti itu.”
Dalam konteks definisi ghibah, kebenaran informasi tersebut tidak otomatis membuatnya boleh disebarkan.
Justru Rasulullah SAW menjelaskan bahwa menyebut sesuatu yang benar tetapi tidak disukai oleh orang yang dibicarakan termasuk ghibah.
Sedangkan jika informasi itu tidak benar, persoalannya menjadi lebih berat karena dapat masuk ke dalam dusta dan fitnah.
Karena itu, sebelum menulis sesuatu di grup WhatsApp, jangan hanya bertanya, “Apakah ini benar?”
Tanyakan juga:
- Apakah informasi ini memang perlu disampaikan?
- Apakah ada tujuan yang baik dan dibenarkan?
- Apakah orang yang dibicarakan akan merasa direndahkan jika mengetahuinya?
- Apakah orang lain perlu mengetahui informasi tersebut?
- Apakah ada cara menyelesaikan masalah tanpa membuka aibnya?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini dapat membantu seseorang lebih berhati-hati.
Bagaimana Jika Hanya Bercanda?
Bercanda tidak otomatis menghapus larangan.
Seseorang mungkin menganggap komentar tentang temannya sebagai candaan biasa. Namun jika candaan tersebut mengandung penghinaan, membuka kekurangan, atau membuat orang yang dibicarakan merasa dipermalukan, maka tetap ada persoalan etika dan dosa yang perlu diperhatikan.
Apalagi jika candaan tersebut kemudian disebarkan ke banyak orang melalui grup WhatsApp.
Dalam Islam, humor bukan alasan untuk mengabaikan kehormatan manusia.
Bagaimana Jika Hanya Ikut Membaca?
Persoalan lain muncul ketika seseorang tidak menulis komentar apa pun, tetapi membaca percakapan yang berisi ghibah.
Sikap yang lebih baik adalah tidak ikut menikmati, memperpanjang, atau mendorong pembicaraan tersebut.
Jika memungkinkan, percakapan dapat diarahkan ke topik lain. Misalnya dengan mengatakan, “Sebaiknya kita tidak membicarakan dia kalau orangnya tidak ada.”
Nasihat seperti itu mungkin terasa sederhana, tetapi dapat membantu menghentikan percakapan sebelum berkembang menjadi pembahasan yang lebih buruk.
Bagaimana Jika Sudah Terlanjur Bergunjing?
Jika seseorang menyadari bahwa dirinya telah melakukan ghibah, langkah pertama adalah bertaubat kepada Allah SWT dan berusaha sungguh-sungguh untuk tidak mengulanginya.
Ia juga perlu memperbaiki kebiasaan dalam berkomunikasi.
Jika ghibah tersebut menyebabkan kerugian, mempermalukan seseorang, atau menyebarkan informasi yang merugikan, persoalannya perlu ditangani dengan bijaksana. Jangan sampai upaya memperbaiki kesalahan justru membuka aib tersebut lebih luas.
Karena itu, dalam perkara yang rumit, seseorang dapat meminta nasihat kepada orang yang memiliki ilmu dan dapat dipercaya.
Cara Menjaga Grup WhatsApp dari Ghibah
Menjaga lisan di dunia digital pada dasarnya sama dengan menjaga lisan dalam kehidupan nyata.
Beberapa kebiasaan sederhana dapat diterapkan:
Pertama, pikirkan sebelum mengirim pesan.
Tulisan yang sudah dikirim ke grup bisa dibaca, disimpan, atau diteruskan kepada orang lain.
Kedua, bedakan antara informasi penting dan bahan gunjingan.
Tidak semua hal yang kita ketahui harus dibagikan.
Ketiga, hindari membicarakan aib orang yang tidak hadir.
Jika persoalan memang perlu diselesaikan, lebih baik diarahkan kepada penyelesaian masalah daripada mempermalukan seseorang.
Keempat, jangan ikut memancing percakapan.
Emoji, komentar, atau pertanyaan lanjutan bisa membuat pembicaraan tentang seseorang semakin panjang.
Kelima, biasakan mengalihkan pembicaraan.
Jika grup mulai berubah menjadi tempat bergunjing, mengalihkan topik bisa menjadi salah satu cara sederhana untuk menghentikannya.
Intinya: WhatsApp Bukan Pengecualian
Kemajuan teknologi mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi tidak mengubah prinsip dasar akhlak Islam.
Jika seseorang membicarakan keburukan orang lain yang benar adanya, orang tersebut tidak hadir, dan ia tidak menyukai pembicaraan itu jika mengetahuinya, maka pembicaraan tersebut dapat termasuk ghibah.
Sebaliknya, pembicaraan yang memiliki tujuan yang dibenarkan syariat, seperti mencari nasihat, mengadukan kezaliman, atau mencegah bahaya, memiliki konteks hukum yang berbeda dan harus dilakukan sebatas kebutuhan.
Karena itu, sebelum menekan tombol kirim, seorang Muslim sebaiknya berhenti sejenak dan mempertimbangkan dampak ucapannya.
Sebab menjaga kehormatan orang lain bukan hanya berlaku ketika berbicara secara langsung. Jari yang mengetik di layar pun tetap menjadi bagian dari tanggung jawab seorang Muslim dalam menjaga lisannya.
