DWQA QuestionsCategory: QuestionsSaudara mementingkan istri
Ratna asked 2 weeks ago

Saya mau bertanya, istri kakak saya nampak tidak rela jika kakak saya memberi kepada keluarganya (saya dan ibu saya) padahal kebutuhannya dipenuhi oleh kakak saya bahkan berlebih, di usia pernikahan yang baru 9 tahun sudah memiliki rumah, mobil, dan 2 motor (semua sudah lunas). Kakak saya pun mengizinkannya bekerja dan mempunyai pembantu sehingga yang mengasuh anak dan mengurus rumah semuanya pembantu.
Minggu kemarin saya dan ibu saya berkunjung ke rumah kakak saya tersebut (ini pun karena anak kakak saya meminta). Kami menggunakan travel yang dipesankan oleh kakak saya. Ini merupakan kali ketiga kami ke rumah kakak saya dalam hidup saya. Makan siang kakak saya belikan dari RM Padang Sederhana, dan sorenya gofood ayam goreng. Keesokan harinya saya bilang pada istrinya bahwa sarapan mau beli warteg, ekspresi istri kakak saya terlihat sangat tidak rela apalagi ternyata siangnya kami makan di RM sate senayan yang mahal. Apalagi kakak saya membelikan untuk kami hingga 700 ribu dimsna kakak saya juga berbelanja untuk kepentingannya 1,4 juta.
 
Istri kakak saya itu sangat tidak suka kakak saya memberi kepada keluarga kakak saya. Padahal gaji kakak saya saja sebulan 55 juta untuk ibu saya 1,5 juta, untuk bapak saya 1 juta, untuk saya 250 ribu, dan untuk ibu istrinya 1 juta. Menurut saya itu bukanlah nominal yang besar apalagi mengingat gaji pembantu mereka saja sebulan 2,5 juta.
Selama pernikahannya istri kakak saya tidak pernah membelikan apapun untuk keluarga kami bahkan lebaran pun tidak.
Anak pertamanya sudah berusia 7 tahun, saya sering membelikannya mainan di tahun-tahun awal hampir tiap bulan saya belikan dengan rentang harga 70ribu hingga 200 ribu seharusnya mainannya banyak. Anehnya ternyata ketika saya ke sana mainannya tidak ada satupun yang utuh. Istilah istrinya dia suka menyortir (membuang) mainan dan memberikan mainannya kepada anak kakaknya. Ketika saya mengadu ke kakak saya dia malah bilang kalau ga rida ga usah ngasih lagi. Padshal saya rida hanya saya metasa sudah sepantasnys pemberian dari saya itu dijaga bukan dibuang, dihilangkan, sangat tidak dihargai.
Ibu saya pun dulu suka membuatkan gaun untuk anaknya, anaknya suka tapi istrinya tidak suka jadi hanya dipakai sekali lalu di simpan di lemari tau-tau sempit.
Di awal-awal pernikahan bahkan terlihat sekali upayanya menjauhkan kakak saya dengan keluarganya, saya ingat waktu itu ibu saya sakit parah sudah bolak balik ke rumah sakit malah pakin parah bqhkan hampir step saya panik dan menelepon kakak saya karena kami hanya berdua dan saya tidak bisa membawa kendaraan, dia malah bertanya apakah dia harus menjenguk, ternyata itu karena istrinya keberatan.
Pernah juga suatu ketika kakak istrinya melahirkan di RS dekat rumah (15 menit menggunakan mobil dari rumah saya), bahkan mereka tidak mampir.
Memang di awal pernikahan ibu saya tidak setuju tapi saya dan ibu saya berusaha memperlakuan dia dengan baik. Setiap bulan mereka datang ke rumah, ibu saya selalu sibuk menyiapkan makanan, saya mengasuh anak-anaknya, sedangkan istrinya malah sibuk tidur atau bermain HP. Ketika saya protes ke kakak saya katanya kasian istrinya cape senin-jumat kerja. Padahal ibu saya juga bekerja senin-jumat, saya juga saat itu kuliah dan tidak punya pembantu sehingga beban kerja sehari-hari jadi doble.
Jadi istri kakak saya itu sangat buruk, tidak menghormati mertua, sangat pemalas, tidak suka mengasuh anak, sangat mementingkan pekerjaan, sangat pelit dan dia sangat menghak gaji kakak saya bahkan dengan gaji sebesar itu pun mayoritas kaos kakak saya kaos gratisan dan baju dalamnya sobek-sobek sedangkan istrinya perawatan kulit ke dokter, kosmetik mahal, tas mewah, masker pun yang mahal.
Dengan seburuk itu istrinya setiap kali diingatkan kakak saya tidak mau tau (apalagi kalau saya yang protes) malah bilang bahwa istrinya sudah usaha maksimal, saya terlalu pemarah, terlalu perasa dsb. Padahal tujuan saya baik karena saya sayang kepada kakak saya maka saya mengingatkan kakak saya bahwa tingkah laku istrinya itu salah dan harus dinasehati kalau setelah dinasehati istrinya masih begitu gugur kewajiban kakak saya.

Saya sungguh kecewa dengan sikap kakak saya yang membabi buta membela istrinya dan menyalahkan saya tanpa mengecek kebenarannya, memang istrinya itu di depan nampak seperti penurut padahal di belakangnya pembantah luar biasa bahkan di belakang dia sangat suka memarahi dan mengancam anaknya.
Saya merasa tidak dianggap saudara oleh kakak saya, saya sakit hati dan ingin tidak berhubungan lagi. Bolehkah begitu? Karena sebetulnya yang tidak menjaga hubungan itu kakak saya. Selama ini meskipun saya tidak suka saya sudah berusaha maksimal memperlakukan istrinya dengan baik bahkan ketika dia ulang tahun kemarin saya mengirimkan kado dan kue ulang tahun untuk dia dan dia sangat senang. Jadi istrinya itu sangat senang diberi tapi sangat pelit dan tidak mau memberi.
Saya sempat suudzon jikalau kakak saya diguna-guna, karena sikapnya jadi beribah sekali sebelum menikah kakak saya orangnya sangat logis dan kritis. Bahkan dulu kakak saya tidak suka dengan istrinya tapi istrinya mengejar-ngejar sekali sampai meminjamkan mobil dsb sehingga kakak saya merasa tidak enak dan harus menikah dengannya. Bahkan waktu menikah pun buru-buru sekali kelihatan jika ditunďa istrinya takut kakak saya tidak jadi menikahinya. Saya ingat sekali dulu ibu saya sedang S3 dan bermasalah dan hanpir DO, jadi ibu saya meminta kakak saya menunda pernikahannya kakaknya saya malah bilang kalau nunggu ibu saya lulus kapan nikahnya bisa-bisa ga jadi nikah, kala itu ibu saya sangat sakit hati bahkan mungkin hingga saat ini.
Dalam kondisi begini apa yang harus saya lakukan? Jujur saya sudah muak dan ingin putus hubungan tapi dalam agama putus hubungan itu dilarang. Kakak saya dan istrinya sangat tidak menjaga hubungan, padahal anak-anaknya sangat dekat dengan saya (saking dekatnya saya sering dikira ibunya oleh orang lain), dengan kondisi saya yang memburuk dengan kedua orang tuanya sulit bagi saya untuk bersifat baik seperti dahulu kepada mereka.