DWQA QuestionsCategory: QuestionsMengenal Obat Penggugur Kandungan dan Risikonya
Haji Kates asked 3 months ago

Mengenal Obat Penggugur Kandungan dan Risikonya – Hingga saat ini, aborsi dilarang
di Indonesia. Bahkan terdapat sanksi pidana bagi mereka yang diketahui melakukannya, tidak
tanggung-tanggung, hukumannya pun kurungan penjara selama 10 tahun. Tidak hanya
pelaku, mereka yang menyarankan bahkan membantu proses aborsi, juga akan dikenai
hukuman.
 
Konsultasi Klik https://api.whatsapp.com/send?phone=6281911231551

Namun dibalik semua itu, tetap tidak bisa dipungkiri, bahwa praktik aborsi masih banyak
ditemui di negara ini, begitu juga dengan pelakunya. Banyak alasan mengapa seseorang
melakukan aborsi, mulai dari kehamilan di luar nikah, terlalu banyak anak, dan masih banyak
lagi.
Pada beberapa kondisi medis ada yang mengharuskan seorang ibu untuk menggugurkan
janinnya. Tujuan yang satu itu jelas untuk menyelamatkan nyawa sang ibu. Dan berikut ini
adalah beberapa alasan medis yang akan meminta seorang ibu untuk menggugurkan
kehamilannya.
Menderita Cacar Air selama Hamil
Jika Anda menderita cacar air selama kehamilan, biasanya dokter akan menyarankan untuk
melakukan aborsi. Bisa jadi, Anda disarankan untuk minum obat penggugur kandungan
yang disarankan. Karena bila virus serius ini dibiarkan bersarang di tubuh Anda hingga 3
bulan saja, bisa menginfeksi calon janin. Selain itu, penyakit ini juga bisa menimbulkan
komplikasi bagi ibunya.
Cacar air atau varisela pada ibu hamil, biasanya akan diobati dengan pemberian obat
antivirus. Dan bila cacar air ini terjadi pada usia kehamilan kurang dari 24 minggu, maka
kemungkinan terbesar akan membuat bayi lahir dengan sindrom varisela kongenital.
Di mana kelainan pada bayi ini akan terlihat berupa kelainan otot dan tulang, kelumpuhan,
down syndrom, ukuran kepala kecil, kejang, hingga kebutaan. Namun, bila ini terjadi pada
kehamilan di atas 28 minggu biasanya tidak memberikan efek buruk pada janin.
Kemudian selain berisiko pada bayi yang masih berada di dalam kandungan. Cacar yang
diderita ibu hamil, dapat memicu komplikasi ketika bayi sudah dilahirkan, yaitu berisiko
terkena cacar air neonatal yang bisa mengancam jiwanya. Dan gejala ini akan muncul ketika
bayi berusia 5-10 hari dan jika tidak ditangani dengan benar, maka bayi baru lahir bisa saja
meninggal.
Cacat Lahir
Alasan lain, yang kerap dijadikan alasan sebagai adalah, janin yang tidak sehat. Janin dengan
cacat lahir seperti cerebral palsy atau down sindrom, kerap ditawarkan untuk digugurkan.
Meskipun tidak sedikit pula yang mempertahankan kondisi tersebut.
Di sinilah beberapa ibu yang tidak menginginkan kehamilan ini, akhirnya menggunakan jalan
pintas dengan minum obat penggugur kandungan. Bahkan dipilih berbagai cara agar janin
tidak berkembang hingga kemungkinan aborsi dilakukan meskipun embrio sudah terlihat
tumbuh dan membesar.
Pada kasus ini, tertunya diperlukan pemikiran yang sangat matang, baik dari sang ibu, ayah,
hingga peran dari keluarga dan lingkungan sekitar yang akan turut mendukungnya.
Kanker
Menggugurkan kandungan juga akan disarankan bila Anda diketahui mengidap kanker. Di
mana untuk menangani kanker, dibutuhkan berbagai perawatan medis yang dilengkapi
dengan berbagai bahan kimia yang biasa digunakan untuk kemoterapi. Dan bila janin tetap
dibiarkan di dalam rahim, maka ini bisa berbahaya baginya.
Diabetes
Penderita diabetes parah juga akan disarankan untuk tidak melanjutkan kehamilannya.
Penyakit ini umumnya akan muncul pada minggu ke 24-28 kehamilan. Dan bila kondisi gula
darah semakin memburuk, selain kesehatan ibu yang terganggu, kemungkinan terbesar
lainnya adalah janin akan lahir cacat dan meningkatkan risiko keguguran.
Sebenarnya pada kasus ibu hamil diabetes, aborsi dan minum obat penggugur kandungan
adalah pilihan yang paling akhir. Karena masih ada obat yang aman dikonsumsi, yaitu
Metformin yang tidak akan membahayakan janin.
Satu penyakit lagi yang biasanya disarankan untuk aborsi adalah ibu hamil yang didiagnosa
menderita penyakit penular, seperti HIV atau sifilis yang juga berisiko tinggi menularkan
penyakit tersebut pada janinnya.
Beberapa kasus di atas merupakan alasan mengapa sebaiknya seorang ibu melakukan aborsi.
Namun sebelum memutuskan tindakan tersebut, pastikan Anda telah melakukan diskusi
dengan pasangan atau keluarga lainnya.
Sementara kasus lain yang juga diperbolehkan untuk aborsi adalah pada kasus pemerkosaan.
Di mana sang ibu belum siap dan keluarganya pun tidak menginginkan dengan berbagai
alasan. Dan untuk melakukan aborsi, sebaiknya tetap melewati berbagai prosedur yang resmi
dan hanya dilakukan oleh tenaga medis yang berkompeten.
Untuk proses aborsi sendiri secara medis, biasanya dilakukan dengan dua cara, yaitu;
Obat
Meminum obat penggugur kandungan yang diberikan oleh untuk aborsi adalah pilihan
yang pertama. Obat ini biasanya akan disarankan bila kehamilan masih di awal trimester
pertama. Adapun obat yang sering diresepkan adalah mifepristone dan misoprostol.
Keduanya akan bekerja secara efektif hingga 97 persen.
Cara kerja kedua obat ini adalah menghambat kerja hormon progesteron. Di mana hormon
tersebutlah yang sangat dibutuhkan embrio ketika akan berkembang dan tumbuh. Selanjutnya
bila obat tersebut dikonsumsi, maka akan memicu kontraksi rahim hingga akhirnya
mendorong jaringan embrio keluar dengan sendirinya.
Adapun reaksi yang akan terjadi setelah obat tersebut di konsumsi adalah, terjadinya kram
pada bagian perut dan akan mengalami pendarahan hebat. Selanjutnya setelah embrio keluar
dari tubuh Anda, kemungkinan lain yang akan timbul adalah, kondisi demam seperti flu akan
dirasakan.
Meskipun obat pengugur kandungan ini paling banyak digunakan, namun sebaiknya tidak
dipilih apabila, Anda memiliki alergi obat, memiliki penyakit hati, ginjal ataupun paru-paru.
Selain itu, hindari bila kehamilan terjadi di luar rahim, memiliki gangguan pendarahan,
sedang menggunakan KB IUD atau karena Anda telah mengonsumsi obat kortikosteroid
dalam jangka waktu yang cukup panjang.
Operasi
Proses aborsi yang kedua adalah dengan melewati prosedur operasi dan ini akan sangat
bergantung pada usia kehamilan itu sendiri. Di mana bila kehamilan masih berada di
trimester pertama, maka tindakan yang akan dilakukan adalah aspirasi vakum.
Bila kehamilan telah masuk ke trimester kedua, maka akan disarankan untuk menjalani
prosedur dilatasi dan evakuasi. Sementara prosedur dilatasi dan ekstraksi akan disarankan
bila kehamilan telah berada di trimester ketiga.
Untuk aspirasi vakum, biasanya tidak akan diberikan obat penggugur kandungan, namun
dokter akan menggunakan sebuah tabung kecil yang melekat pada mesin vakum yang
kemudian akan digunakan untuk membersihkan rahim. Cara vakum ini juga tidak berlaku,
bila sang ibu mengalami gangguan pembekuan darah, memiliki kondisi rahim yang tidak
normal atau mengalami infeksi panggul.
Pada aspirasi dilatasi dan evakuasi, maka dokter akan melakukan kombinasi antara aspirasi
vakum, forcep serta dilatasi kuret. Perlu waktu satu hingga dua hari untuk menjalani prosedur
ini hingga akhirnya janin bisa dikeluarkan dari rahim.
Kemudian pada prosedur yang ketiga yaitu, Dilatasi dan ekstraksi. Maka akan lebih banyak
tindakan yang akan dilakukan, bahkan jika diperlukan, dokter bisa saja melakukan induksi,
histerotomi, dan juga histerektomi.
Pada proses aborsi, ibu hamil disarankan untuk melakukan konseling dengan ahlinya. Dan
proses ini bisa dilakukan sebelum pratindakan dan setelah tindakan. Di mana pada kondisi
ini, sang ibu juga sangat rentan baik secara psikologis maupun fisik. Sehingga butuh
dukungan dan informasi yang benar untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Efek Samping
Kemudian bagaimana dengan efek samping yang bisa saja terjadi setelah proses aborsi
tersebut? Di mana aborsi merupakan sebuah tindakan yang bersifat memaksakan suatu
tindakan sehingga tentunya akan memberikan efek.
Kram dan Pendarahan
Dengan atau tidak menggunakan obat penggugur kandungan, semua cara aborsi biasanya
akan menyebabkan kram pada perut. Pada kondisi ini, Anda bisa saja minum obat pereda
nyeri, seperti ibuprofen, codeine atau paracetamol.
Selain itu, terdapatnya kemungkinan mengalami pendarahan. Ada dua jenis pendarahan yang
bisa saja timbul, yaitu pendarahan ringan yang sama halnya seperti pada ibu melahirkan biasa
dan akan terjadi selama satu bulan. Dan yang kedua adalah pendarahan hebat, yang bisa
menyebabkan rasa nyeri yang sangat pada perut, demam, perubahan bau pada vagina hingga
mengalami tanda-tanda kehamilan seperti mual atau nyeri pada bagian payudara.
Untuk jenis pendarahan berat memang jarang terjadi dan kasusnya sendiri satu berbanding
seribu. Pendarahan berat biasanya terjadi bila ditemukan gumpalan darah yang besarnya
melebihi bola golf dan berlangsung selama 2 jam atau lebih.
Bila pendarahan berat berlangsung selama 12 jam berturut-turut, disertai dengan rasa sakit
yang sangat hebat maka ini harus benar-benar diwaspasai karena bisa berujung pada
kematian.
Rahim Rusak
Kemungkinan yang kedua efek yang bisa saja terjadi adalah rusaknya kondisi rahim. Atau
yang lebih parah, bila aborsi dilakukan secara sembarang dan tidak dilakukan secara tuntas
juga bisa mengakibatkan infeksi. Dan bila aborsi dilakukan berulang kali atau pernah
menjalani kuret lebih dari 3 kali, maka rahimpun bisa menjadi kering.
Melakukan aborsi secara mandiri atau menggunakan pihak yang ilegal, baik dengan
menggunakan obat penggugur kandungan atau dengan proses medis sekalipun sangat
rentan terkena infeksi. Bahkan pada kasus medis legal pun pernah ditemui 27% pasien dari
1.100 kasus aborsi mengalami infeksi selama dan lebih dari 3 hari.
Efek samping lain dari kuret adalah berubahnya jaringan sehat di rahim, menjadi jaringan
ikat. Kemudian kemungkinan berkembangnya tumor karena proses aborsi yang tidak steril,
bisa saja terjadi.
Tidak hanya di vagina juga rahim, infeksi bisa terjadi pada leher rahim hingga menimbulkan
kerusakan pada usus juga kandung kemih. Bahkan beberapa kasus pernah ditemukan kondisi
pasien yang mengalami pelengketan rahim serta hancurnya jaringan di dalam rahim.
Sementara untuk risiko kerusakan rahim, termasuk di dalamnya kerusakan pada leher rahim,
kerusakan pada perforasi rahim hingga luka ronek pada rahim atau laserisasi bisa saja tidak
terdiagnosis. Kecuali bila dokter melakukan tindakan laparoskopi baru kemudian tindakan
pengobatan.
Pada beberapa kasus dan terjadi pada wanita yang telah melahirkan, serta telah melakukan
anestesi umum saat aborsi, tetap terdapat risiko perforasi. Sementara pada remaja yang
melakukan aborsi mandiri pada trimester kedua kehamilan maka risiko kerusakan serviks
akan jauh lebih besar.
Peradangan pada lapisan rahim atau endometritis juga akan meningkat terutama bila aborsi
dilakukan oleh wanita yang berusia di bawah 20 tahun. Dan bila tidak dionati makan akan
menganggu pada masalah kesuburan dan masalah kesehatan lainnya.
Radang Panggul
Demam, kram perut hingga pendarahan bisa terjadi tidak lama setelah pelaku aborsi
menggunakan obat penggugur kandungan. Kemudian bila dilakukan proses aborsi dengan
cara yang salah maka, Anda bisa saja mengalami radang panggul atau pelvic inflammatory
disease (PID).
Pada wanita yang tidak terinfeksi sebelum kehamilan dan kemudian melakukan aborsi.
Berisiko mengembankan PID hanya dalam waktu 4 minggu saja dan ini bisa terjadi pada
aborsi di trimester pertama. Dan risiko PID biasanya akan meningkat pada jenis kasus aborsi
spontan. Terperangkapnya jaringan kehamilan di dalam rahim disertai risiko pendarahan akan
berpeluang cukup besar.
Di mana pada kondisi tersebut organ reproduksi akan mengalami infeksi karena bakteri yang
bisa saja menempel pada peralatan yang digunakan untuk aborsi. Jika tidak ditangani dengan
benar, maka kemungkinan lain yang akan timbul adalah, risiko nyeri panggul kronis,
infertilitas, hingga kasus sulit hamil karena kehamilan etopik serta berkembangnya fetus pada
tuba falopi.
Adapun gejala umum yang bisa dikenal sebagai radang panggul adalah, rasa nyeri pada
bagian panggul dan perut bagian bawah. Terdapatnya keputihan dengan bau yang tidak
sedap, demam hingga menggigil, hingga kondisi pendarahan abnormal dan nyeri saat
berkemih.
Sementara itu pada kasus wanita yang sudah memiliki anemia, baik itu anemia sedang
maupun berat. Kehilangan darah akan meningkat karena kemungkinan terjadinya infeksi.
Hingga ini bisa menjadi penyebab kematian yang tentunya tidak diinginkan siapapun juga.
Masalah Kehamilan
Pada mereka yang pernah melakukan aborsi, maka efek samping lain yang bisa saja didapat
adalah, terjadinya beberapa masalah pada kehamilan. Yang pertama yaitu, kondisi
pendarahan di awal kehamilan, kemudian kemungkinan mengalami persalinan prematur yang
tidak diinginkan.
Kondisi berat bayi rendah juga bisa ditemui pada kasus ini dan masalah plasenta yang sangat
dibutuhkan janin, bisa saja terjadi. Selain itu, kemungkinan meningkatnya risiko keguguran
juga bisa terjadi.
Melihat risiko yang begitu besar pada kasus aborsi, maka pikirkan baik-baik sebelum
memutuskan untuk membeli obat penggugur kandungan atau melakukan tindakan aborsi,
baik secara mandiri bahkan secara legal sekalipun.
Gangguan Mental
Tidak saja secara fisik, gangguan secara mentalpun bisa dialami oleh pelaku aborsi. Di mana
tindakan ini akan memberikan pengaruh yang sangat besar baik secara emosional maupun
spiritual. Mudah cemas, depresi, hingga kemungkinan percobaan bunuh diri bisa saja terjadi.
Masih ada kondisi lain yang bisa harus dihadapi ketika memutuskan melalukan penguguran
kandungan. Seperti, sepsis atau kondisi keracunan darah yang bisa menyebabkan infeksi total
pada tubuh hingga komplikasi yang bisa menyebabkan kematian. Dan ini bisa terjadi, bila
terjadi pendarahan berlebih, kerusakan organ tubuh, infeksi, hingga reaksi dari anestesi.
Sepsis
Komplikasi infeksi yang juga bisa terjadi dan bisa mengancam jiwa atau sepsis akan
menghantui pelaku aborsi. Di mana sepsis akan terjadi ketika bahan kimia yang terdapat di
dalam obat penggugur kandungan kemudian bercampur dalam aliran darah yang justru
memicu peradangan di seluruh tubuh.
Selain menyebabkan kerusakan pada beberapa sistem organ tubuh serta kegagalan organ.
Sepsis juga bisa mengakibatkan kematian. Komplikasi ini memang jarang terjadi namun pada
beberapa kasus aborsi yang tidak sempurna serta infeksi bakteri pada rahim, akan
meningkatkan risiko terkena sepsis. Dan syok sepsis pada kasus aborsi merupakan kondisi
gawat darurat dan perlu penanganan medis.
Gejalanya meliputi demam dengan suhu tubuh yang sangat tinggi atau justru sebaliknya.
Anda dalam kondisi menggigil dengan suhu tubuh yang sangat rendah. Pendarahan berat
disertai nyeri yang sangat parah juga bisa dirasakan.
Kondisi lainnya adalah kesulitan bernapas atau bernapas dangkal dengan sesak. Kemudian
tekanan darah rendah, lengan dan kaki pucat dan terasa dingin. Denyut jantung juga terasa
cepat dan keras, dan mengalami kebingungan mental, seperti linglung, gelisah, atau merasa
letih, hingga tidak mampu untuk berkemih.
Kanker
Wanita yang pernah menjalankan aborsi baik dengan mengonsumsi obat penggugur
kandungan yang didapat secara ilegal maupu legal. Tetap memiliki risiko terkena kanker
serviks bila dibandingkan dengan wanita yang tidak pernah menjalani aborsi.
Bahkan wanita yng pernah dua kali atau lebih melakukan aborsi risiko terkena kanker
tersebut bisa lebih meningkat hinga 4,92%. Begitu juga dengan penyakit lainnya yang bisa
timbul karena aborsi, yaitu kanker ovarium serta kanker hati yang dikaitkan dengan
pengalaman aborsi tunggal maupun ganda.
Gangguan hormonal tidak wajar pada sel kehamilan serta keruskan leher rahim yang tidak
diobati. Serta meningkatnya stress dan efek negatif pada sistem kekebalan tubuh akan
meningkatkan tumbuhnya sel kanker pasca aborsi.
Kematian
Sebuah studi di Findlandia pada tahun 1997, mengatakan bahwa wanita yang aborsi lebih
berisiko empat kali lipat bahkan lebih untuk meninggal. Terlebih bila mereka masih berada di
bawah umur. Penyebab utamanya memang terjadinya pendarahan hebat yang bisa disebabkan
karena mengosumsi obat penggugur kandungan.
Kemudian mengalami infeksi parah, emboli paru, anestesi gagal hingga kehamilan ektopik
yang tidak terdiagnosa. Dan risiko ini jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan risiko
bunuh diri ataupun sebagai korban, hingga mereka yang melanjutkan kehamilan hingga
waktunya melahirkan janin.
Penuh risiko adalah jawaban terbaik untuk tindakan yang satu ini. Tidak saja bagi wanita
yang berusia d bawah umur namun juga berlaku bagi wanita dewasa, yang notabene siap
secara mental maupun fisik.
Meskipun risikonya terlihat mirip dengan komplikasi pada persalinan pada bayi umumnya,
namun aborsi tidak akan pernah sama.
Jelas sudah bahwa, semua jenis praktik aborsi baik dengan menggunakan obat penggugur
kandungan maupun prosedur resmi akan memiliki risiko komplikasi. Bahkan usia
kehamilan, juga turut berperan dalam tingkatan risikonya. Semakin tua usia kehamilan, maka
semakin tinggi pula risiko yang harus dilalui.
Untuk melengkapi informasi dan pengetahuan Anda mengenai proses aborsi. Kini saatnya
Anda mengetahui beberapa hal yang terkait dengan tindakan ini, salah satunya adalah
estimasi biaya.
Estimasi Biaya Aborsi
Di Indonesia, biaya untuk tindakan aborsi memiliki harga yang cukup bervariasi. Pada
beberapa rumah sakit swasta, biaya aborsi medis dimulai dari harga Rp. 7.000.000 hingga
mencapai harga Rp. 10.000.000. Dan sebaiknya tetap disediakan biaya cadangan sekitar 20%
hingga 30%.
Biaya-biaya tersebut biasanya akan bergantung pada beberapa hal, seperti penggunaan obat
penggugur kandungan, obat bius, ajuran rawat inap, hingga pilihan rumah sakit yang akan
menanganinya.
Kemudian apa saja yang harus diperhatikan sebelum melakukan aborsi medis, berikut ini
adalah penjelasannya.
Sebelum Aborsi
Persiapan yang harus dilakukan sebelum melakukan tindakan aborsi, dimulai dengan
persiapan fisik dan mental. Banyak yang harus dipertimbangkan sebelum memutuskannya.
Lakukan konseling dan temui dokter untuk membahas secara detail kasus yang tengah Anda
hadapi.
Selanjutnya, ketahui pula berbagai persyaratan yang harus dipenuhi, diantaranya:
– Melakukan tes darah serta tes urin
– Memperlihatkan catatan medis dan kesehatan Anda secara menyeluruh
– Memastikan kehamilan dengan melakukan pemeriksaan fisik
– Mendengarkan dengan seksama akan penjelasan dokter mengenai cara kerja aborsi,
efek samping hingga risiko lainnya.
– Melakukan pemeriksaan USG untuk menentukan tanggal kehamilan. Kemudian harus
dipastikan bahwa kehamilan Anda bukan kehamilan di luar kandungan, kehamilan
mola atau hamil anggur.
Sebelum memutuskan untuk melakukan tindakan penguguran, kembali memikirkan apa yang
akan dilakukan adalah keputusan yang terbaik. Dan perlu diingat, bahwa tindakan ini masuk
ke dalam tindakan kejahatan. Kecuali, jika dilakukan atas pertimbangan media yang bisa
membahayakan nyawa sang ibu atau karena pertumbuhan janin itu sendiri.
Selama Aborsi
Tindakan selanjutnya setelah memikirkan dan mempertimbangkan keputusan aborsi dengan
sangat baik. Maka selama masuk ke dalam proses aborsi, Anda akan disarankan melakukan
beberapa hal. Mulai dari mengonsumsi obat penggugur kandungan yang disarankan.
Berikut ini adalah beberapa obat yang biasanya digunakan dan metodenya.
Mifepristone dan Misoprostol
Metode yang pertama adalah dengan mengonsumsi obat Mifepristone dan Misoprostol.
Seperti telah disebutkan di atas, bahwa mifepristone digunakan untuk menghambat
pertumbuhan hormon progesteron. Sementara misoprostol merupakan obat yang biasa
digunakan terjadinya tukak lambung, serta menurunkan risiko terjadinya komplikasi, seperti
pendarahan.
Ketika memutuskan untuk mengonsumsi kedua obat tersebut secara mandiri, selanjutnya
Anda tetap harus mengunjungi dokter. Tujuannya untuk mengetahui apakah proses aborsi
telah selesai atau belum. Dan ini biasanya akan dilakukan setidaknya satu minggu setelahnya.
Misoprostol Vaginal dan Bukal
Metode yang kedua juga masih menggunakan obat yang sama namun dengan cara yang
berbeda. Misoprostol yang telah dilarutkan kemudian ditempatkan di vagina (vaginal),
kemudian di area mulut Anda diantara pipi dan gusi (bukal) atau diletakkan dibagian bawah
lidah (sublingual). Ketiga proses ini dipercaya bisa mengurangi efek samping yang bisa
terjadi setelah prosedur aborsi dilakukan.
Methotrexate
Obat penggugur kandungan yang ketiga adalah methotrexate. Obat ini merupakan obat
yang biasa digunakan untuk menekan pertumbuhan sel abnormal yang ada di dalam tubuh,
seperti sel kulit, sel sumsum tulag dan sel kanker.
Proses penggunaan obat ini dengan cara disuntikkan dan bisa membahayakan nyawa. Karena
itu sebaiknya digunakan dengan pengawasan dokter.
Vaginal Misoprostol
Metode yang terkhir adalah vaginal misoprostol dan kemungkinan akan berhasil bila
digunakan pada kehamilan di bawah 9 minggu. Dan ini merupakan piliha metode yang paling
akhir karena cenderung kurang efektif.
Dan efek samping dari semua jenis obat tersebut adalah mual, diare, muntah, sakit kepala,
menyebabkan demam hingga panas dingin. Kemudian, ahli medis juga akan memberikan
obat untuk mengatasi rasa sakit baik selama maupun setelah tindakan aborsi tersebut.
Meskipun jarang terjadi infeksi setelah proses aborsi media, biasanya Anda akan diberikan
obat antibiotik. Sementara efek samping lainnya, seperti rasa sakit maupun pendarahan akan
sangat bergantung pada usia kehamilan itu sendiri.
Sesudah Aborsi
Setelah tindakan aborsi, berbagai kondisi bisa saja alami, mulai dari demam yang
berlangsung selama 24 jam. Kemudian rasa nyeri pada bagian perut dan punggung.
Munculnya keputihan dengan bau yang tidak sedap, hingga kemungkinan mengalami
pendarahan hebat.
Lakukan pemeriksaan lanjutan dengan dokter untuk memastikan bahwa Anda telah pulih dan
semua kondisi Anda dalam keadaan baik. Kesehatan rahim, pendarahan hingga kemungkinan
adanya infeksi sebaiknya di periksa. Dan agar terhindar dari berbagai risiko, sebaiknya
hindari hubungan intim hingga lebih dari satu bulan lamanya.
Pada proses pengecekan setelah aborsi ini, dokter juga biasanya akan menanyakan beberapa
hal. Jelaskan dan jawab secara detail agar dokter bisa bekerja degan lebih baik. Setelah itu,
biasanya dokter juga akan melakukan USG untuk memastikan rahim Anda benar-benar
bersih dan aborsi berhasil dilakukan.
Konsultasikan juga perasaan yang Anda hadapi setelah proses aborsi tersebut. Karena
biasanya ada bermacam perasaan, seperti sedih, kehilangan hingga perasaan bersalah.
Meskipun ini normal, namun bila dibiarkan berlarut-larut maka akan mempengaruhi
kehidupan Anda kelak.
Selanjutnya, sebisa mungkin hindari berbagai rutinitas rutin, perlu waktu beberapa hari
hingga kondisi Anda bisa kembali pulih. Istirahat total sebaiknya Anda lakukan namun bila
terjadi komplikasi segera hubungi dokter agar bisa segera ditangani.
Melihat beberapa informasi penting di atas, memang terlihat jelas bahwa aborsi dengan
menggunakan obat pengugur kandungan atau dengan saran medis sekalipun mengandung
banyak risiko. Dan agar semakin lengkap pengetahuan Anda mengenai aborsi, berikut ini
adalah beberapa mitos keliru yang kerap digunakan sebagai acuan. Tujuannya tentu agar
terhindar dari kesalahan sehingga bisa meminimalisir keputusan akan aborsi.
Mitos Aborsi
Bisa Dilakukan Kapanpun
Mitos yang pertama mengatakan bahwa aborsi bisa dilakukan kapan saja. Ini jelas mitos yang
salah karena aborsi tidak bisa dilakukan di sembarang waktu dan pada kondisi yang hanya
diinginkan. Di Indonesia sendiri praktik serupa memang dilarang dilakukan. Sementara di
beberapa negara, ada dokter yang mengizinkan aborsi yang dilakukan di trimester pertama
maupun trimester kedua.
Namun, tidak ada satupun negara yang mengizinkan praktik aborsi yang dilakukan pada
kehamilan yang telah menginjak trimester ketiga. Terkecuali dengan berbagai macam alasan
medis yang menyangkut nyawa kedua belah pihak, yaitu ibu dan janinnya.
Aborsi Boleh Dilakukan oleh Semua Wanita Hamil
Minum obat pengugur kandungan untuk melakukan aborsi bisa dilakukan oleh wanita
hamil manapun. Ini juga merupakan mitos yang sangat salah. Karena aborsi, hanya bisa
dilakukan pada berbagai kasus seperti, kehamilan di luar rahim atau ektopik.
Kemudian risiko keguguran yang disebabkan berbagai hal, kondisi cacat janin, hingga
kondisi kesehatan ibu yang bisa menbahayakan keduanya. Catatan selanjutnya, aborsi juga
diperbolehkan pada wanita yang mengalami perkosaan.
Bahkan untuk tindakan yang satu ini, telah dilindungi oleh peraturan pemerintah yang
berkaitan dengan Kesehatan Reproduksi. Namun inipun masih dengan catatan, bahwa aborsi
bisa dilakukan bila kehamilan belum berusia di atas 40 hari.
Membuat Mandul
Mitos ketiga mengenai aborsi adalah, bahwa aborsi yang dilakukan mandiri maupun ilegal
tidak bisa dibuktikan secara ilmiah dan menyebabkan kemandulan. Aborsi tidak akan
berpengaruh pada kemampuan seseorang untuk kembali hamil. Begitu juga dengan kesehatan
pada ibu maupun janinnya di kehamilan berikutnya.
Yang perlu diwaspadai adalah, efek samping bila melakukan aborsi mandiri dan ilegal
tersebut akan merusak kondisi rahim dan kesehatan Anda, bahkan bisa menyebabkan
kematian.
Lebih Bahaya Aborsi daripada Melahirkan
Obat pengugur kandungan yang diminum dengan aturan pakai saja, bisa mengakibatkan
efek samping berlebih pada beberapa orang. Bisa Anda bayangkan bila obat tersebut
diminum sembarangan tanpa memperhatikan ketentuannya.
Lantas, apakah aborsi lebih berbahaya bila dibandingkan dengan melahirkan biasa?
Aborsi memang bisa menimbulkan berbagai komplikasi. Namun beberapa penelitian
menunjukkan bahwa aborsi tidak lebih berbahaya dibandingkan dengan melahirkan. Hanya
saja, ini akan sangat bergantung pada praktik aborsi yang akan dilakukan.
Akan sangat berbahaya, bila aborsi dilakukan di tempat-tempat praktik ilegal. Yang
kemudian ditangani oleh mereka yang tidak memiliki kemampuan medis, setrta tidak
didukung dengan peralatan yang sesuai.
Apabila aborsi dilakukan di klinik bersalin ataupun rumah sakit setidaknya bisa diminimalisir
risiko maupun komplikasi yang bisa saja terjadi. Meskipun Anda harus melakukan berbagai
tahapan medis dan dilakukan secara resmi dan telah disetujui oleh berbagai pihak, terutama
untuk mereka yang berada di bawah umur.
Menyebabkan Depresi dan Trauma
Mitos lainnya yang beredar di masyarakat tentang aborsi adalah, kemungkinan menjadi
penyebab terbesar akan depresi hingga trauma yang berkepanjangan. Terdapat sebuah fakta
yang menyatakan bahwa 95% wanita yang melakukan aborsi, mengaku bahwa tindakan
tersebut adalah keputusan yang paling benar, sehingga tidak menimbulkan efek depresi
secara berlebih.
Sementara pada kasus ibu hamil yang memiliki kondisi medis tertentu. Justru mengalami
perasaan tertekan yang sangat besar terlebih ketika mengetahui bahwa kehamilannya bisa
membahayakan dirinya dan janinnya.
Dari berbagai mitos di atas, memang bisa dipahami beberapa hal terkait aborsi ini. Namun
sebagai penekanan lagi, menggugurkan kandungan dengan alasan apapun, baik secara medis
maupun di bawah tangan harus melalui keputusan yang matang dan tidak mudah. Dan
tentunya memiliki potensi risiko komplikasi dan efek aborsi yang harus disadari dengan
benar.
Mengonsumsi obat penggugur kandungan hingga memaksa janin untuk keluar, memang
sama sekali bukan keputusan terbaik. Meskipun mungkin saat ini Anda tengah dalam
keadaan terdesak dan tidak menginginkan kehamilan. Namun berpikir secara ulang dan bijak
tetap harus dilakukan.
Bila lingkungan di sekitar Anda tidak terlihat mendukung kondisi Anda, maka carilah pihak
lain yang bisa dijadikan tempat untuk berkonsultasi. Jangan mengambil keputusan seorang
diri terlebih bila harus memutuskan untuk pergi ke tempat aborsi ilegal seorang diri.
Sementara bagi Anda yang mengalami kehamilan karena kasus perkosaan, sebaiknya segera
laporkan kepada pihak berwajib untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut hingga proses
aborsi bisa dilakukan secara legal dengan dilengkapi berbagai keterangan yang dibutuhkan
secara hukum.
Selanjutnya bila korban masih berada di bawah umur bisa melakukan konseling dengan
berbagai pihak terkait seperti menghubungi Komnas Perempuan. Di mana di sana korban
akan mendapatkan perlindungan serta dukungan agar terhindar dari berbagai hal yang tidak
diinginkan.
Maraknya penjualan obat penggugur kandungan diberbagai media online, sebaiknya segera
Anda abaikan terlebih bila Anda akan melakukan proses aborsi secara mandiri. Karena
Terlalu banyak risiko yang akan Anda hadapi.
Begitu juga dengan proses aborsi yang dilakukan dengan mengonsumsi sejumlah obatan-
obatan. Seperti mengonsumsi paracetamol dalam jumlah banyak atau menenggak minuman
keras. Alih-alih ingin menggugurkan kandungan, Anda hanya mendekatkan risiko dengan
kematian Anda sendiri.
Pertimbangkan berbagai aspek sebelum berpikir untuk melakukan tindakan tersebut. Karena
bila dilakukan tanpa prosedur yang aman dan sesuai dengan hukum, bisa jadi Anda tengah
menbahayakan nyawa Anda sendiri dan tentunya ini bukan pilihan terbaik.
Itulah penjelasan mengenai aborsi dan obat pengugur kandungan yang sebaiknya Anda
hindari. Bagaimanapun mempertahankan kehamilan jauh lebih baik bila dibandingkan
menghilangkan nyawa atas perbuatan yang Anda lakukan. Kecuali, jika janin atau Anda
berada dalam kondisi yang darurat dan berbahaya sehingga tindakan medis harus dilakukan.
 
Konsultasi Klik https://api.whatsapp.com/send?phone=6281911231551