DWQA QuestionsCategory: QuestionsKonsultasi harta waris
Rahma Putri asked 2 weeks ago

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.
Tanpa mengurangi rasa hormat, dan tanpa ada niat mengganggu, izinkan saya untuk bertanya beberapa pertanyaan yang ingin saya sampaikan kepada ustadz.
Begini ustadz, saya sudah membaca beberapa buku/pdf/ tentang pembagian harta waris. saya juga sudah mendengar kan beberapa ceramah tentang bab waris. Namun masih ada pertanyaan dikepala saya yang belum saya temukan jawabannya.
Pertanyaan saya adalah: saya mempunyai kakek nenek yang dua-duanya sudah meninggal dunia. Dari pernikahan tersebut lahir 6 orang anak.
Urutan yang meninggal pertama adalah
1. Anak no 1
2. Kakek (suaminya kakek)
3. Anak no 2
4 anak no 3
5. nenek (istri kakek)
6. Anak no 4
Dan yang masih hidup ada anak no 5 (bude)&6 (ibu saya).
Ketika nenek saya masih hidup tidak ada pembagian harta waris dari harta yang ditinggalkan oleh kakek saya.
Seperti yang sudah saya pelajari, ketika salah satu dari bagian suami-istri meninggal maka yang ditinggalkan mempunyai hak harta waris. Tetapi pada kasus keluarga saya ini, selepas kepergian kakek saya semua harta masih dipegang oleh nenek dan tidak dibagikan. Alasannya mungkin tidak tahu menahu soal ilmu mawaris. Hal ini berlanjut sampai anak no 2&3 meninggal, hingga akhirnya nenek sayapun meninggal dunia dan disusul anak no.4. Setelah anak-anak nya hanya tinggal 2 yang masih hidup baru mau dilakukannya pembagian harta waris.
Karna semasa hidup nenek saya tidak pernah memberi tahu bagian harta milik nenek berapa dan kakek berapa..
apakah bisa jika pembagian harta yang akan dilakukan tidak dipecah dulu?
Dalam artian harta kakek dan nenek dicampur menjadi satu karna tidak tahu harta milik nenek berapa dan punya kakek berapa karna memang tidak pernah diberi tahu hingga beliau (nenek) wafat.
Atau memang harus dibagi dulu tapi memakai hukum pembagian harta gono-gini di Indonesia yang apabila ada cerai mati dibagi menjadikan 50:50 ?
Pertanyaan kedua adalah dalam bentuk apa wasiat itu dibagi? Apakah boleh dalam bentuk tanah? Dalam artian per-orang mendapat sekian meter atau harus dalam bentuknya nominal?
Besar harapan saya agar pertanyaan ini mendapat jawaban dari ustadz. Insyaallah.
Terimakasih banyak atas perhatiannya ustadz.
Maaf apabila ada salah kata.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh.