Renungan Idul Fitri 1438 H/2017 M

Puncak titah Rabbany berkaitan dengan ibadah puasa sebagaimana termaktub dalam surat al-Baqarah 183 adalah agar kita orang-orang beriman dapat meraih ketakwaan secara paripurna kepada ALlah SWT. Ketika Rasulullah menjelaskan tentang pentingnya motivasi untuk menggerakan amalan-amalan lahiriah, beliau memberi isyarat “at-Takwa hahuna, at-Takwa hahuna” (Takwa itu disini, takwa itu disini) sambil menunjukan jari ke dada beliau. Isyarat itu menandakan bahwa takwa menggambarkan keadaan paling dalam dari diri manusia tentang eksistensi tuhan serta kewajiban dan loyalitas manusia kepada-Nya.

Takwa merupakan buah dari Iman yang sesungguhnya, Iman dan Takwa merupakan satu kesatuan yang utuh. Seseorang yang benar-benar beriman seharusnya benar-benar bertakwa. Takwa inilah yang akan membedakan derajat kemuliaan disisi Allah SWT. Manusia yang berhasil mencapai derajat takwa dan kemudian berusaha terus menerus mempertahankannya, dipandang sebagai manusia sukses dalam melaksanakan agamanya. Ia laksana sebatang pohon yang baik yang ditanam serta dipelihara kemudian berbuah sehingga memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia dan lingkungannya. Seperti itulah hendaknya kita yang menjalankan ibadah puasa dari tahun ketahun silih berganti, ibarat orang bertenun, tentu harapan kita adalah menenun pakaian pribadi kita dengan sifat-sifat yang baik dan budi pekerti yang mulia.

Dalam waktu dekat ini kita akan menutup puasa Ramdhan dengan perayaan I’edul Fitri yang secara harfiah, I’edul fitri adalah Kembali kepada kesucian. Namun secara esensi, I’edul Fitri berarti kembali kepada tabi’at awal penciptaan manusia yang membawa komitmen dan janji keimanan kepada Allah SWT sebagaimana tertulis dalah al-Quran surat al-A’raf 172 yang artinya :

“Dan (Ingatlah) ketika tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) : “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab : “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan : “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”

Jadi fitrah artinya adalah tabi’at asasi manusia yang landasannya adalah tauhid kepada ALlah SWT, hal itu diucapkan ketika kita masih berada dalam rahim ibu. Maka ketika kita lahir kedunia dan harus melayari bahtera kehidupan ini, kita dianjurkan beragama secara hanif agar fitrah itu tetap terpelihara secara utuh. mengenai hal ini, Allah berfirman dalam al-Quran surat ar-Rum 30 yang artinya :

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah : (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.”

Dalam masa beberapa hari Puasa yang akan kita selesaikan ini, tugas yang sudah menanti di depan mata adalah membuka lembaran baru kehidupan untuk mewujudkan fitrah hidup yang baru saja dilatih, dipelihara, diperbaiki dan ditumbuhkan dengan segala potensinya selama satu bulan penuh itu. Jika dalam bulan puasa kita dilatih mengandalikan hawa nafsu, maka mulai saat ini mari kita praktekan dengan penuh kesungguhan, jika selama puasa kita dilatih bersabar, maka mulai saat ini kesabaran itu sudah harus menjadi pakaian kita, jika kemarin kita dilatih untuk berdisiplin, maka mulai sekarang harus diwujudkan secara nyata. Jika selama satu bulan penuh kita melaksanakan shalat qiyamurramadhan, maka begitu  menginjak bulan syawal kita lanjutkan dengan qiyamullail dan banyak lagi amaliah ramadhan yang menuntut kontinuitas jika kita ingin memetik hasil latihan selama satu bulan tadi.

Buah dari Madrasah Ramadhan yang digambarkan tadi adalah berwujud kemampuan mengubah dan mentransformasikan karakter pelaku puasa, yaitu :

  • Mengubah yang culas menjadi ikhlas.
  • Mengubah pendemdan menjadi pemaaf, tidak memelihara kebencian dan tidak memupuk rasa sakit hati.
  • Mengubah yang pelit menjadi mampu bekerja tulus penuh syukur, tidak pamrih, tidak mengeluh, tidak iri terhadap rizki orang dan tidak menuntuk apa yang tidak patut.
  • Mengubah jiwa-jiwa kerdil menjadi jiwa-jiwa besar.
  • Mengubah hasrat-hasrat rendah menjadi mampu berprilaku mulia sesuai dengan martabat dirinya.
  • Mengubah hidup yang teratur menjadi disiplin, taat pada aturan dan senantiasa mengindahkan hukum.
  • Mengubah anasir-anasir syirik, takhayul, bid’ah dan khurafat menjadi tauhidullah yang murni.

Jiwa-jiwa seperti itu adalah gambaran fitrah manusia, gambaran insan kamil yang memungkinkan dirinya menjadi Khalifah fil-Ardh untuk membangun dunia, mengolah alam, mewujudkan perdamaian dan kesejahteraan bersama. Inilah sosok insan yang rahmatan, insan yang mampu mentransformasikan nilai, sebagaimana dilukiskan dalam sebuah hadits Rasulullah SAW : “Khairunnas anfa’uhum linnas” yang berarti sebaik-baik kalian adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain. Pengeritan manfaat disini tentu bukan hanya sekedar manfaat lahir, tapi juga manfaat batin, menjadi sumber inspirasi dan keteladanan, ibarat lampu yang memancarkan sinar cahaya terang, hingga daripadanya orang bisa berjalan dan tidak tersesat di jalan.

Di bagian lain dalam sabdanya, Rasulullah SAW melukiskan seorang mukmin itu ibarat seekor lebah, ia tidak pernah hinggap di tempat kotor, bila ia hinggap di ranting se kecil apapun tidak pernah rusak karenanya dan bila ia mengeluarkan isi perutnya maka yang keluar adalah madu yang lezat sebagai obat. Itulah gabaran pribadi-pribadi yang unggul nan mulia yang diperlukan dalam kehidupan di dunia ini, hanya dengan kepribadian semacam inilah Allah SWT melekatkan predikat sbegai umat terbaik kepada kita. Allah berfirman yang artinya :

“Kalian semua adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar serta beriman kepada Allah.”

Mudah-mudahan puasa yang akan segera kita tutup sebulan penuh ini dapat mengantarkan kita ke tempat mulia disisi Allah sekaligus menjadikan para pelakunya sebagai umat terbaik, umat yang berkualitas, umat yang karena keimanannya bisa berdiri kokoh bagai batu karang di tengah lautan, mampu menahan derasnya angin dan gelombang, tidak sebaliknya seperti yang digambarkan Rasulullah, umat dengan jumlah yang banyak tapi ibarat buih yang terombang ambing di lautan yang saat itu muncul saat itu pula lenyap diterjang angin pasang. (Bandung, Ramadhan 1438/Juni 2017 oleh Sekretaris Umum MUI Jawa Barat Drs. HM. Rafani Akhyar, M. Si)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *